• Guru SD Juga Memanfaatkan TIK

    Seorang guru harus selalu belajar untuk meningkatkan profesionalisme. Salah satu cara untuk meningkatkan profesionalisme seorang guru adalah dengan menguasai Teknologi Informasi...

  • Sudut Baca Kreatif Kelas V Putri

    Video ini berisi tentang sudut baca yang dibuat oleh Kelompok Putri Kelas V TP. 2016/2017 SDN 001/XI Kelurahan Pasar Sungai Penuh. Sudut baca yang dibuat dengan penuh kreatifitas ini...

  • Menghargai Keputusan Bersama

    Materi Pokok: Menghargai Keputusan Bersama Mata Pelajaran: Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelas/ Semester: V/ II A. PENGERTIAN KEPUTUSAN BERSAMA Keputusan adalah segala putusan yang telah ditetapkan...

Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2019

Keluarga Hebat, Literasi Meningkat, Indonesia Bermartabat

 “Gerakan literasi bukan sekadar gerakan membaca, tapi membaca untuk memahami serta mengkritisi dan memberikan pendapat lain dari apa yang telah dibaca.”

Demikian pesan yang saya dengar dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy pada saat membuka Festival Literasi Sekolah 2019 di Graha Insan Berprestasi Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta pada hari Jumat tanggal 26 Juli 2019. Pada saat itu saya menjadi guru pendamping dari seorang murid di sekolah saya atas nama M. Daffa Nugraha dari SDN 001/XI Kelurahan Pasar Sungai Penuh, Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi yang lolos ke tingkat nasional untuk mengikuti FL2N (Festival dan Lomba Literasi Nasional) 2019 bidang lomba cipta pantun SD.

Pesan tersebut mengandung makna bahwa masyarakat pada umumnya banyak yang mengartikan bahwa membaca itu sekedar berhubungan dengan huruf-huruf yang kemudian menjadi kata, kata yang kemudian menjadi kalimat, kalimat yang kemudian menjadi paragraf, dan paragraf yang kemudian menjadi sebuah teks bacaan. Namun, pada saat membaca kita harus memahami dan menganalisa apa yang telah kita baca.

Kemendikbud (2017:25) menjelaskan bahwa pengertian literasi adalah berbagai kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengakses, kemudian memahami, dan juga dapat menggunakan sesuatu dengan cerdas dari aktivitas-aktivitas seperti: menulis, melihat, menyimak, membaca, dan berbicara. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa literasi tidak hanya membaca, namun dapat dilakukan dengan berbagai aktivitas lain seperti melihat, menyimak, menulis dan berbicara. Jadi, kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas sangat mendukung semua aktivitas literasi kita agar lebih bermakna. Selain itu, pentingnya penguasaan literasi dasar juga merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seseorang di abad ke-21 selain kompetensi dan karakter.

Apa saja literasi dasar yang harus dikuasai oleh masyarakat Indonesia? Literasi dasar yang harus dikuasai oleh masyarakat menurut kemendikbud (2017:2), yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Kemampuan literasi dasar tersebut juga harus didukung dengan kompetensi abad ke-21. Kompetensi itu biasa kita sebut dengan istilah 4C, yaitu creativity atau kreativitas, critical thingking atau berpikir kritis, communication atau komunikasi dan colaboration atau kolaborasi. Selain mendukung kemampuan literasi dasar, kompetensi abad ke-21 juga kemampuan yang sangat penting dikuasai dalam era revolusi industri 4.0.

Pemerintah sejak tahun 2016 telah menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) untuk meningkatkan budaya literasi pada berbagai lingkungan pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang secara serius sampai saat ini digiatkan oleh pemerintah adalah bertolak dari survei tentang literasi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 di New Britain, Conn, Amerika Serikat. Dari survei tersebut didapatkan hasil bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara dalam hal literasi. Hasil survei ini cukup memprihatinkan bagi negara yang kaya akan sumber daya alamnya, namun tidak memperhatikan kemampuan literasi di era globalisasi yang penuh dengan persaingan ini. Seharusnya, Indonesia menempati urutan tertinggi dalam hal literasi demi terlahirnya sumber daya manusia yang cerdas di tengah-tengah kekayaan alam yang berlimpah.

Gerakan Literasi Nasional (GLN) memiliki tiga ranah, yaitu Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Keluarga dan Gerakan Literasi Masyarakat. Ketiga ranah tersebut harus dilaksanakan dengan berkesinambungan, terintegrasi dan melibatkan semua pemangku kepentingan. Berkesinambungan berarti literasi dilakukan secara terus-menerus atau berlanjut dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat serta tidak bergantung pada perubahan pemerintahan. Terintegrasi artinya literasi adalah program yang tidak hanya dilaksanakan oleh kemendikbud, melainkan program yang terintegrasi oleh lembaga lain baik pemerintahan maupun non pemerintahan. Melibatkan semua pemangku kepentingan berarti literasi dilaksanakan dengan melibatkan semua orang baik di pemerintahan, non kepemerintahan, individu maupun lembaga.

Salah satu ranah Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang merupakan pembentukan sikap literasi sejak dini adalah Gerakan Literasi Keluarga. Gerakan Literasi Keluarga adalah suatu usaha pada unit terkecil masyarakat yang disebut dengan keluarga dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi pada angota keluarga. Mengapa Gerakan Literasi Keluarga sangat penting? Jawabannya adalah karena keluarga adalah lingkungan pendidikan dan pembelajaran awal bagi anak-anak. Hal ini sejalan dengan pendapat Setyorini (2016) yang menyatakan bahwa bahwa orang tua atau keluarga memiliki peran penting sebagai model dari terbentuknya suatu perilaku anak yang selalu meniru tingkah laku orang tua atau keluarga.

Dari uraian di atas tentunya keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan literasi di abad ke-21 di tengah tantangan revolusi industri 4.0 ini. Untuk menjawab tantangan itu, maka saya memberikan beberapa usulan kepada "Orang Tua Hebat" tentang seperti apa peran keluarga dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan literasi:

1. Literasi dasar yang kreatif dan inovatif

Kalau secara awam kita mengenal literasi yang artinya hanya sekedar membaca dan menulis saja, sekarang kita telah mengetahui bahwa ada 6 literasi dasar yang harus dikuasai anak. Mungkin pertanyaan yang ada pada diri kita semua adalah, “meningkatkan kemampuan baca tulis pada anak saja sulit sekali, apalagi mau ditambah 5 literasi dasar?”. Baik, sekarang saya berikan satu per satu contoh kegiatan literasi dasar yang kreatif dan inovatif di lingkungan keluarga.

Pertama pada literasi baca tulis. Literasi baca tulis adalah kemampuan literasi yang berkaitan dengan membaca dan menulis serta kecakapan seseorang dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Cara orang tua hebat dalam meningkatkan literasi baca tulis anak salah satunya dengan menggunakan permainan agar anak tidak merasa sedang melakukan literasi baca tulis. Permainan yang dapat dilakukan bisa berupa permainan teka-teki atau tebak-tebakan kata. Permainan teka-teki ini dapat bersumber dari buku atau memanfaatkan aplikasi yang dapat diinstal di android maupun PC. Selain itu kita juga bisa menggunakan cara yang kreatif dan inovatif lainnya dalam meningkatkan kemampuan literasi baca-tulis, yaitu membuat sudut baca yang menarik bagi anak, jalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan dan buatlah jadwal membaca atau membacakan buku untuk anak.

Kedua pada literasi numerasi. Literasi numerasi adalah kemampuan literasi yang berkaitan dengan pengetahuan angka dan simbol serta informasi berupa bagan, grafik, tabel, dll yang bertujuan untuk memecahkan masalah, menganalisis sehingga akhirnya mampu memprediksi dan mengambil keputusan dari permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan untuk meningkatkan kemampuan literasi numerasi dapat berupa pembiasaan dalam kegiatan sehari-hari yang dilakukan di rumah. Saya akan mencontohkan dengan kegiatan ibu sehari-hari yaitu memasak. Ketika ibu memasak sebenarnya anak dapat dilibatkan untuk meningkatkan kemampuan literasi numerasinya yaitu dalam membaca resep suatu masakan beserta takarannya, baik dengan ukuran massa maupun volume. Dari kegiatan ini secara tidak langsung orang tua telah mengasah kemampuan literasi numerasi anak tanpa harus selalu menggunakan buku tulis dan alat tulis yang mampu membuat anak tertekan. Selain itu, sang ayah juga bisa memanfaatkan barang-barang bekas untuk berkreasi membuat media atau alat peraga berkaitan dengan literasi numerasi yang menarik seperti memanfaatkan barang bekas sperti tutup botol. Tutup botol tersebut bisa dikemas semenarik mungkin seperti diberikan warna untuk dimanfaatkan dalam penerapan operasi hitung. Masih banyak lagi contoh yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam meningkatkan kemampuan literasi numerasi dengan pembiasaan di keluarga seperti, menghitung waktu tempuh merebus air, menghitung jarak dari rumah ke sekolah, mengajak anak ke pasar untuk berbelanja dan memanfaatkan teknologi dengan pendampingan dan pengawasan orang tua seperti menginstal aplikasi yang berkaitan dengan kemampuan literasi numerasi pada android atau PC.

Ketiga pada literasi sains. Literasi sains berkaitan dengan kecakapan ilmiah yang berkaitan dengan tindakan-tindakan ilmiah untuk dapat melibatkan diri dan memiliki perhatian terhadap permasalahan yang berkaitan dengan sains. Kalau di sekolah, pelajaran sains sama halnya seperti dengan pelajaran matematika, yaitu sama-sama menjadi momok yang menakutkan bagi anak. Sebagai orang tua hebat, kita harus menumbuhkan pada diri anak rasa kecintaan terhadap sains. Contoh terdekat yang bisa dimanfaatkan oleh orang tua dalam meningkatkan kemampuan literasi sains anak adalah dengan membawa anak bertamasya sambil bermain ke tempat wisata yang berkaitan dengan alam. Di  tempat wisata alam, orang tua dan anak sambil bermain bisa berdiskusi tentang hal-hal yang menarik di sekitar seperti tumbuhan dan hewan. Selain untuk meningkatkan kemampuan literasi sains anak, kita juga dapat mengasah kompetensi abad ke-21 anak, yaitu  kreativitas, berpikir kritis, komunikasi dan kolaborasi melalui kegiatan tersebut. Contoh lain yang dapat dilakukan orang tua untuk meningkatkan kemampuan literasi sains anak yaitu dengan mengamati gejala alam, benda-benda sekitar, alat permainan atau alat peraga sains yang menarik, film-film yang berhubungan dengan sains dan website atau blog pembelajaran yang memberikan informasi tentang sains.

Keempat pada literasi digital. Literasi digital adalah kemampuan literasi yang berkaitan dengan komputer dan kecakapan seseorang dalam mengakses dan menyebarluaskan informasi. Walaupun pada saat ini paradigma terhadap perkembangan dunia digital adalah suatu hal yang menakutkan bagi orang tua, namun mau tidak mau tantangan di abad ke-21 dan revolusi industri 4.0 harus dihadapi oleh anak-anak kita. Oleh sebab itu, kemampuan literasi digital anak perlu tingkatkan dan arahkan ke hal-hal positif dan bermanfaat untuk anak-anak kita kelak. Contoh yang bisa dilakukan orang tua hebat dalam meningkatkan literasi digital adalah mendampingi anak-anak dalam memanfaatkan internet, baik melalui android maupun PC. Dengan mengenalkan etika dalam menggunakan internet, maka anak-anak akan bijak dalam memanfaatkan perangkat android atau PC untuk hal yang positif. Selain itu, orang tua juga dapat membuat jadwal serta aturan tertentu dalam kegiatan literasi digital seperti mengakses internet untuk informasi dan belajar, penggunaan gawai yang terinstal aplikasi pembelajaran dan menonton video yang bersifat edukasi.

Kelima pada literasi finansial. Literasi finansial adalah kemampuan literasi yang berkaitan dengan keuangan, artinya seseorang yang memiliki kemapuan literasi finansial yang baik maka ia mampu secara bijak mengelola serta mengambil keputusan tentang keuangan dengan benar. Pertanyaannya, bagaimana cara kreatif dan inovatif yang dilakukan orang tua dalam meningkatkan kemampuan literasi finansial anak? Apakah hanya dengan selalu mengingatkan kepada anak agar tidak boros dalam mengelola uang? Wah, kalau seperti itu pasti sang anak akan bosan diceramahi terus. Contoh yang kreatif misalnya, orang tua hebat dapat menggunakan permainan yang berkaitan dengan literasi finansial. Permainan monopoli adalah salah satu permainan yang melatih kemampuan literasi finansial anak. Pada permainan monopoli, kita berusaha untuk menguasai semua kotak-kotak di atas papan dengan melakukan pembelian, menyewa dan bertukar properti. Bisa dibayangkan, di sela-sela kesibukan orang tua dalam kesehariannnya, namun masih bisa berkumpul dan bermain dengan anak sekaligus mengenalkan anak literasi finansial secara menyenangkan. Selain dengan permainan, pembiasaan dalam keluarga juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi finansial pada anak. contohnya seperti bisa dengan mengajarkan anak membuat daftar kebutuhan yang akan dibeli, mengajak anak ikut berdagang jika pekerjaan orang tuanya adalah pedagang atau wirausaha, mengajak anak ke pasar untuk berbelanja, dan berderma atau bersedekah yang juga akan menanamkan pendidikan karakter pada anak.

Keenam literasi budaya dan kewargaan. Literasi budaya dan kewarganegaraan adalah kemampuan literasi yang dimiliki seseorang dalam sikap, pengetahuan dan kerampilannnya dalam bidang budaya dan juga mampu meletakkan dirinya sebagai warga negara secara tepat. Selain dengan menyediakan buku yang berkaitan dengan budaya dan kewargaan di rumah, ada beberapa cara kreatif dan inovatif orang tua dalam meningkatkan kemampuan literasi budaya dan kewargaan anak-anaknya. Salah satunya adalah dengan mengajak anak bermain permainan tradisional seperti bermain congklak, gobak sodor, layangan, engrang, gasingan, dll. Orang tua yang bijak pada era digital harus bijak menggunakan teknologi tanpa meninggalkan identitas kita sebagai bangsa indonesia yang kaya akan budayanya. Permainan tradisional yang sekarang ini tergantikan oleh gadget perlu dihidupkan lagi di keluarga. Semakin banyak kita mengenalkan dan bermain permainan tradisional dengan anak, maka kemampuan literasi budaya anak semakin meningkat. Selain itu, orang tua juga bisa mengajak anak-anaknya untuk jalan-jalan ke tempat wisata budaya, ke museum, melihat pawai budaya dan bisa juga mengajarkan atau menggunakan bahasa daerah. Pada literasi kewarganegaraan, orang tua dapat memberikan pengalaman langsung kepada anak dengan mengajak anak-anaknya ke Tempat Pemingutan Suara (TPS) misalnya pada pemilihan Kepala Desa, pemilihan Bupati/ Walikota, pemilihan Gubernur, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, serta pemilihan anggota legislatif. Dari pengalaman tersebut anak akan mengetahui hak dan kewajibannnya sebagai warga negara. Di rumah, kita juga dapat mengenalkan literasi kewarganegaraan dengan menanamkan nilai-nilai pancasila, misalnya musyawarah untuk mengambil keputusan tentang lokasi wisata yang akan dikunjungi, bermusyawarah dalam membuat jadwal piket di rumah, serta mengenalkan anak kepada rekan kita yang memiliki profesi dalam bidang ketahanan negara seperti polisi dan tentara.

Dari keenam literasi dasar beserta contohnya di atas sangat terlihat jelas bahwa literasi tidak hanya baca tulis saja. Pengenalan dan peningkatan literasi dasar juga dapat dilakukan oleh orang tua dengan cara kreatif dan inovatif dengan tidak hanya menggunakan buku atau sekedar memberikan ceramah kepada anak.

Literasi numerasi pada keluarga: Anak membaca resep suatu masakan beserta takarannya
Literasi numerasi pada keluarga: Anak membaca resep suatu masakan beserta takarannya. (Dok. Pribadi)

2. Jangan takut menggunakan internet untuk literasi

Bisakah kita menggunakan internet untuk literasi dasar yang jumlahnya enam itu? Jawabannya adalah bisa. Kenapa bisa? Baik itu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, maupun literasi budaya dan kewargaan, kita dapat memanfaatkan internet dalam mengenalkan keenam literasi dasar tersebut kepada anak. Internet dapat menjadi sumber belajar yang menarik untuk anak jika digunakan untuk hal yang positif dan bijaksana. Selain itu, orang tua juga diharapkan mendampingi anak-anaknya ketika beselancar di dunia maya. Kemudian timbul pertanyaan dari orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaannnya, “kalau setiap hari didampingi, kapan kita mau mengurus pekerjaan kita di rumah?”. Ingat, konsep teknologi yaitu diciptakan untuk memudahkan kita melakukan pekerjaan, bukan merepotkan. Orang tua dapat memanfaatkan program piranti lunak penyaring (web-filtering) yang bertujuan untuk melakukan scan atau memblok situs-situs berisi konten-konten yang tidak sesuai dengan masa perkembangan anak. Selain itu, orang tua juga harus senantiasa memantau situs-situs apa saja yang pernah dikunjungi anak dengan memanfaatkan fitur history pada android atau PC. Jadi, kita sebagai orang tua yang merupakan generasi digital immigrant jangan takut lagi untuk menggunakan internet dalam rangka menunjang dan meningkatnya kemampuan literasi anak-anak kita yang merupakan generasi digital native.

Orang tua mendampingi anak ketika menggunakan internet untuk kegiatan literasi
Orang tua mendampingi anak ketika menggunakan internet untuk kegiatan literasi. (Dok. Pribadi)

3. Bekerja sama dengan sekolah

Orang tua harus bekerja sama dengan pihak sekolah dalam hal meningkatkan kemampuan literasi anak. Hal ini juga didukung istilah Tri Pusat Pendidikan yang dikemukakan oleh Bapak Pendidikan Nasional, yaitu Ki Hajar Dewantara. Tri Pusat Pendidikan mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan harus didukung oleh tiga sarana utama yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga sarana tersebut senantiasa harus bersinergi agar tercipta komunikasi yang selaras untuk mencapai tujuan pendidikan.

Kerjasama dengan pihak sekolah dapat dilakukan dengan diskusi langsung dengan kepala sekolah, guru atau tim literasi sekolah. Semakin sering kita berdiskusi tentang literasi, maka semakin banyak pengetahuan kita tentang literasi yang akan kita terapkan untuk anak-anak kita di rumah. Sekolah yang telah melaksanakan pendidikan keluarga pastinya telah menerapkan kelas orang tua/ paguyuban orang tua. Kelas orang tua adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh orang tua/ wali murid untuk terlibat dalam memberikan ide dan perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya di sekolah demi terciptanya suasana yang nyaman bagi anak-anaknya.  Selain itu, dengan diadakannya kelas orang tua maka akan tercipta keselarasan orang tua mendidik di rumah dan guru mendidik di sekolah. Sebagai contoh, jika orang tua belum begitu paham tentang literasi, maka kegiatan pada kelas orang tua akan dibahas berupa diskusi tentang literasi tersebut. Berdasarkan kesepakatan bersama, orang tua dapat mengundang narasumber yang ahli tentang literasi di sertai guru/ wali kelas anak-anaknya. Untuk kelancaran komunikasi yang berkesinambungan antar orang tua dan guru pada kelas orang tua, biasanya kelas orang tua membuat grup Whatapps (WA).

Selain kelas orang tua, sekolah yang telah melaksanakan pendidikan keluarga juga pastinya telah melaksanakan kelas inspirasi dan pentas seni. Kelas inspirasi adalah pemberian motivasi oleh orang tua/ wali murid yang menginspirasi anak-anak di kelas dengan menceritakan profesinya atau pekerjaannya agar anak-anak semangat dalam meraih cita-cita. Dari pengertian tersebut, kelas inspirasi merupakan wadah dan media literasi bagi anak secara langsung. Beragamnya profesi orang tua seperti guru, polisi, tentara, pekerja seni, dokter, dosen, dll, dapat memperkaya pengetahuan literasi anak. Pada kelas inspirasi, narasumber yang hadir bukan hanya orang tua/ wali murid, namun bisa alumni, orang di sekitar sekolah dengan profesi tertentu, dan juga bisa dari peserta didik berprestasi yang ingin berbagi cerita atau pengalamannya. Aktifnya orang tua dalam berpartisipasi dalam kelas inspirasi dapat memberikan dampak yang positif bagi anak dalam meningkatkan kemampuan literasinya.

Program pendidikan keluarga yang ketiga dalam meningkatkan kemampuan literasi anak adalah pentas kelas akhir tahun. Pentas kelas akhir tahun adalah suatu kegiatan yang dibuat oleh paguyupan orang tua dan bekerja sama dengan sekolah sebagai ajang bagi anak-anak untuk menyalurkan minat, bakat, dan kreativitasnya. Pentas kelas akhir tahun juga terdapat kegiatan pemberian apresiasi kepada anak dan orang tua hebat yang berperan aktif dalam memajukan sekolah. Kenapa pentas kelas akhir tahun dapat meningkatkan kemampuan literasi anak? Dalam kegiatan ini, anak-anak diberikan kesempatan untuk menampilkan karya yang dibuatnya. Karya-karya tersebut bisa berupa produk seni, budaya, kerajinan tangan, karya-karya yang berkaitan dengan sains, dll. Dari karya-karya tersebut dapat kita lihat bahwa pentas kelas akhir tahun memberikan pengalaman langsung bagi anak untuk berliterasi. Oleh sebab itu, orang tua perlu berpartisipasi aktif di dalam pentas kelas akhir tahun dengan selalu bekerja sama kepada pihak sekolah agar kemampuan literasi anak meningkat.

Kegiatan Kelas Orang Tua di SDN 001/XI Kelurahan Pasar Sungai Penuh
Kegiatan Kelas Orang Tua di SDN 001/XI Kelurahan Pasar Sungai Penuh. (Dok. Pribadi)

4. Pemberian reward untuk anak

Purwanto (2009:182) menyatakan bahwa reward adalah hadiah, penghargaan atau apresiasi kepada anak atas perbuatan atau sesuatu yang dikerjakannya yang bertujuan untuk mendidik serta agar anak merasa bangga dan merasa bahagia. Untuk menambah semangat literasi anak, orang tua dapat memberikan reward kepada anak yang telah melakukan kegiatan literasi. Contohnya, orang tua memberikan reward jika anak telah membaca buku, pemberian reward dalam kuis yang dilakukan orang tua seputar literasi, serta pemberian reward atas pengalaman literasi yang telah dilakukan anak. Pemberian reward tidak hanya berupa benda, namun reward yang mendidik adalah dapat berupa verbal dan non verbal. Reward verbal contohnya kata-kata atau kalimat berupa pujian. Sedangkan reward non verbal contohnya, menggunakan mimik atau anggota badan seperti: senyum, mengacungkan jari jempol, tepuk tangan; reward yang berbentuk simbol seperti: sebuah kartu yang dirancang oleh orang tua, pin yang anak hebat berliterasi; reward berbentuk benda seperti: buku bacaan yang menarik, tempat pensil, pensil warna; merasa bangga dengan anaknya yang telah rajin berliterasi seperti: memberikan selamat pada saat makan malam di depan seluruh anggota keluarga, menceritakan kegiatan berliterasi yang telah dilakukan anak ketika orang tua berkumpul dengan sesama orang tua; dan anak diberikan kepercayaan untuk memilih tempat yang akan dikunjungi untuk berwisata yang masih ada hubungannya dengan kegiatan literasi keluarga.

Orang tua yang menggunakan reward sebagai alat untuk mendidik, maka akan memotivasi anak untuk berbuat yang lebih baik di masa yang akan datang. Namun perlu diketahui bagi kedua orang tua bahwa pemberian reward bukan dinilai dari kuantitas dan kualitas dari hasil yang telah dicapai anak. Namun, reward bertujuan agar terbukanya hati seorang anak untuk selalu semangat dalam berusaha menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Pemberian reward oleh orang tua untuk memotivasi anak agar semangat untuk berliterasi
Pemberian reward oleh orang tua untuk memotivasi anak agar semangat untuk berliterasi. (Dok. Pribadi)

5. Giat mencari informasi

Orang tua yang kreatif dan inovatif selalu mencari informasi demi kemajuan anak-anaknya. Dalam meningkatkan kemampuan literasi anak, sebelumnya orang tua sudah harus mengetahui seperti apa itu gerakan literasi nasional. Untuk mendapatkan informasi tersebut, orang tua bisa melakukan sharing dengan sesama orang tua, bertanya kepada guru dan kepala sekolah, berdiskusi dengan seseorang yang ahli dalam bidang literasi, membuat program literasi pada kelas orang tua dan kelas inspirasi, aktif dalam melibatkan diri di acara pentas kelas akhir tahun, serta rajin mencari informasi melalui internet dengan mengunjungi situs-situs web yang berkaitan dengan literasi dan pendidikan keluarga.

Orang tua yang kreatif dan inovatif juga harus tanggap dengan perkembangan era digital yang semakin maju dengan pesat. Sudah menjadi hal yang tidak bisa dihindari, walaupun orang tua merupakan generasi digital immigrant, namun kita tidak boleh ketinggalan dalam perkembangan teknologi guna menyiapkan anak-anak agar menguasai kompetensi abad ke-21 untuk dapat bersaing di revolusi industri 4.0 yang sekarang akan menuju masyarakat 5.0.

Lincah berselancar di dunia maya akan menghasilkan berbagai informasi yang dibutuhkan. Sekarang ini banyak sekali situs-situs web maupun jurnal tentang literasi dan pendidikan keluarga, baik itu pemerintahan maupun non pemerintahan. Kali ini saya akan merekomendasikan situs-situs web pemerintahan yang berkaitan dengan hal tersebut.

Pertama untuk Gerakan Literasi Nasional (GLN). Untuk mendapatkan informasi seputar Gerakan Literasi Nasional (GLN), orang tua dapat mengunjungi website resmi di bawah naungan Kemendikbud RI dengan alamat http://gln.kemdikbud.go.id/.  Di website resmi GLN ini, orang tua akan mendapatkan berbagai informasi seputar literasi. Yang pertama adalah informasi tentang Gerakan Literasi Nasional (GLN), yang berisi latar belakang sampai dengan tujuan serta hasil yang akan dicapai melalui Gerakan Literasi Nasional ini. Yang kedua adalah informasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS), pada halaman ini orang tua akan mendapat informasi berupa modul/ bahan bacaan, praktik baik dan data yang berhubungan dengan Gerakan Literasi Sekolah. Yang ketiga adalah informasi Gerakan Literasi Keluarga (GLK), pada halaman ini orang tua akan mendapat informasi berupa modul/ bahan bacaan, praktik baik dan data yang berhubungan dengan Gerakan Literasi Keluarga. Yang keempat adalah informasi Gerakan Literasi Masyarakat (GLM), pada halaman ini orang tua akan mendapat informasi berupa modul/ bahan bacaan, praktik baik dan data yang berhubungan dengan Gerakan Literasi Masyarakat. Yang kelima adalah informasi tentang Literasi Dasar, pada halaman ini orang tua akan mendapat informasi literasi dasar yang meliputi: literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, literasi budaya dan kewargaan. Yang keenam adalah artikel, pada website ini terdapat artikel-artikel tentang literasi. Yang ketujuh adalah galeri, pada halaman galeri ini berisi konten foto, video dan infografik seputar literasi. Yang kedelapan adalah Ayo Bergerak. Ayo Bergerak adalah sebuah link yang terdapat pada website GLN yang mengarahkan kita menuju suatu website http://donasibuku.kemdikbud.go.id/. Website ini berisi tentang program donasi buku online. Maksudnya adalah suatu program yang bertujuan untuk mendistribusikan buku-buku dari para donasi untuk taman bacaan dan beberapa komunitas yang menggiatkan literasi di Indonesia. Program ini terlahir dari kerjasama antara Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Dirjen PAUD Dikmas Kemendikbud dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat dan pegiat literasi. Tujuan program ini untuk memudahkan distribusi buku-buku bermutu dari pihak yang memberikan donasi ke lebih dari 10.000 Taman-Taman Bacaan Masyarakat dan komunitas literasi yang ada di Indonesia. Pada website donasi buku ini terdapat berita, daftar TBM, tentang kami dan donatur. Selain itu juga dilengkapi fitur mendaftar bagi yang ingin berpartisipasi sebagai donatur dan TBM.

Tampilan beranda Website Gerakan Literasi Nasional (GLN)
Tampilan beranda Website Gerakan Literasi Nasional (GLN). (http://gln.kemdikbud.go.id/)


Kedua untuk Sahabat Keluarga. Untuk mendapatkan informasi seputar Sahabat Keluarga, orang tua dapat mengunjungi website resmi dibawah naungan Kemendikbud RI dengan alamat https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id.  Di website resmi Sahabat Keluarga ini, orang tua akan mendapatkan berbagai informasi seputar pendidikan keluarga. Yang pertama adalah informasi tentang Sahabat Keluarga, yang berisi latar belakang sampai dengan tujuan serta hasil yang akan dicapai melalui Gerakan Literasi Nasional ini. Yang kedua adalah berita, yang berisi tentang berita-berita seputar Sahabat Keluarga. Yang ketiga adalah Keluarga Hebat, berisi tentang cerita atau berita seputar peran keluarga melalui pendidikan keluarga dalam mewujudkan keluarga hebat. Yang keempat adalah Sekolah Sahabat Keluarga, berisi tentang cerita atau berita seputar peran sekolah melalui pendidikan keluarga dalam mewujudkan sekolah sahabat keluarga. Yang kelima adalah Forum, melalui halaman forum ini kita dapat berdiskusi secara daring seputar sahabat keluarga. Yang keenam adalah Pustaka, berisi tentang materi-materi yang dapat didownload seputar pendidikan keluarga. Yang keenam adalah Kegiatan, halaman ini dapat diakses bagi yang telah memiliki password dan user name untuk kegiatan pendidikan keluarga.

Tampilan beranda Website Sahabat Keluarga
Tampilan beranda Website Sahabat Keluarga. (https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id)

6. Jangan hanya konsumtif, produktiflah berliterasi

Orang tua harus menanamkan jiwa produktif kepada anak dalam berliterasi. Maksudnya, anak-anak jangan konsumtif atau penikmat literasi saja. Namun, anak-anak diharapkan produktif atau menghasilkan karya-karya yang berkaitan dengan literasi. Lalu seperti apa karya-karya yang berkaitan dengan literasi? Sebagai contoh orang tua bekerja sama dengan guru di sekolah dalam menciptakan karya literasi. Bisa berkaitan dengan literasi digital, literasi baca tulis, literasi sains, dll. Seperti yang telah dijelaskan pada tulisan saya sebelumnya, bahwa keluarga dapat terlibat untuk kemajuan anak-anaknya dalam memberikan ide atau gagasan dalam kelas orang tua, kelas inspirasi dan pentas kelas akhir tahun.

Sebagai contoh, saya akan menceritakan pengalaman bagaimana peran orang tua dalam bekerja sama dengan guru atau pihak sekolah dalam meningkatkan kemampuan literasi anak. Pengalaman saya yang pertama adalah produktifitas anak pada literasi sains. Beberapa tahun lalu, saya yang seorang guru kelas SD bekerja sama dengan orang tua dalam menciptakan sebuah karya sains yang merupakan bagian dari literasi sains. Awalnya saya berpikir takut merepotkan orang tua murid, namun yang terjadi malah sebaliknya, orang tua begitu antusias dan sangat wellcome dengan kegiatan yang akan dilakukan anak. Karya sains yang peserta didik saya buat adalah alarm pengisian bak mandi dan baterai kulit pisang. Alarm pengisian bak mandi adalah sebuah alat disertai alarm yang bertujuan sebagai solusi dari permasalahan melimpahnya air pada bak mandi karena lupa dalam menutup air keran ketika sudah penuh. Alarm pengisian bak mandi akan mengeluarkan bunyi untuk memberitahukan kepada kita ketika bak mandi sudah penuh. Karya sains yang kedua adalah baterai kulit pisang. Baterai kulit pisang adalah sebuah baterai atau sumber energi yang berasal dari limbah kulit pisang. Dalam membuat karya sains tentunya membutuhkan alat dan bahan. Yang sangat membuat saya kagum adalah orang tua anak-anak sangat perhatian dan ikut mempersiapkan alat dan bahannya yang berasal dari bahan bekas agar karya tersebut selesai.

Video Alarm Pengisian Bak Mandi (Saluran YouTube: Mashindra Prisma Saputra)

Video Baterai Kulit Pisang (Saluran YouTube: Mashindra Prisma Saputra)

Pengalaman saya selanjutnya adalah produktifitas anak pada literasi digital. Karya yang berupa Film Pendek Pendidikan Anak dan Remaja yang berjudul “Kebun Sekolahku”. Film pendek ini berhasil berhasil mendapatkan penghargaan dari Dirjen PAUD Dikmas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk Pemenang Harapan III. Ini juga merupakan pengalaman saya yang begitu mengesankan, para Pemenang I sampai dengan Pemenang Harapan II berasal dari satuan pendidikan tingkat menengah atas dan pertama. Namun ketika orang tua dan guru bersinergi, bagi kami tidak ada kata tidak mungkin jika kita mau berusaha keras walaupun dengan peralatan seadanya. Film Kebun Sekolahku yang termasuk ke dalam kategori Film Pendek Dokumenter Anak dan Remaja ini diangkat dari kisah nyata tentang upaya dari murid-murid serta kerjasama antara guru dan orang tua/ wali murid dalam impian memiliki kebun sekolah walaupun terbatasnya lahan sekolah untuk memiliki kebun sekolah. Dari pengalaman ini dengan kerjasama orang tua dan guru yang begitu solid maka akan tercipta suatu yang bermanfaat, menghasilkan prestasi, serta meningkatkan kemampuan literasi anak.

Film Pendek Dokumenter Anak dan Remaja "Kebun Sekolahku". (Saluran YouTube: Mashindra Prisma Saputra)

Penghargaan Pemenang Harapan III Film Pendek Dokumenter Anak dan Remaja Tingkat Nasional 2018: Murid SDN 001/XI Kelurahan Pasar Sungai Penuh Tiara Novaldi (kiri) dan Guru Pendamping Mashindra Prisma Saputra (kanan)
Penghargaan Pemenang Harapan III Film Pendek Dokumenter Anak dan Remaja Tingkat Nasional 2018: Murid SDN 001/XI Kelurahan Pasar Sungai Penuh Tiara Novaldi (kiri) dan Guru Pendamping Mashindra Prisma Saputra (kanan). (Dok. Pribadi)

Pengalaman saya selanjutnya adalah produktifitas anak pada literasi baca tulis. Hal yang sangat membanggakan bagi daerah kami, Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi pada tahun 2019 ini adalah peserta didik kami meraih prestasi yang tinggi di tingkat nasional sebagai Juara 1 Cipta Pantun pada Festival dan Lomba Literasi Nasional 2019 yang diadakan di Bintaro, Tangerang, Banten pada tanggal 25 sampai dengan 29 Juli 2019. Pencapaian yang sangat luar biasa ini adalah hasil kerjasama orang tua dengan guru atau pihak sekolah dalam rangka menumbuhkan minat literasi anak. Orang tua begitu serius mempersiapkan anak-anaknya untuk mengikuti FL2N. Kegiatan literasi keluarga di rumah antara orang tua dengan anak berjalan dengan lancar. Komunikasi orang tua dengan guru juga terjalin melalui pertemuan langsung maupun melalui whatapps. Tidak hanya untuk persiapan lomba, kegiatan literasi di keluarga yang melibatkan anak dan orang tua pun selalu terjadi karena di sekolah rutin dilaksanakan kegiatan literasi setiap hari Rabu. Pada Rabu pagi anak-anak menampilkan beberapa kegiatan literasi yang dibuatnya seperti: cipta pantun, baca puisi, mendongeng, syair dan cerpen. Dengan kerja sama dan komunikasi antara guru dengan orang tua, maka produktivitas dalam berliterasi anak terwujud dan kemampuan literasi anak meningkat.

Penghargaan Juara 1 Lomba Cipta Pantun Tingkat SD Festival dan Lomba Literasi Nasional (FL2N) Tingkat Nasional 2019: Guru Pendamping Mashindra Prisma Saputra (kiri) dan Murid SDN 001/XI Kelurahan Pasar Sungai Penuh M. Daffa Nugraha (kanan)
Penghargaan Juara 1 Lomba Cipta Pantun Tingkat SD Festival dan Lomba Literasi Nasional (FL2N) Tingkat Nasional 2019Guru Pendamping Mashindra Prisma Saputra (kiri) dan Murid SDN 001/XI Kelurahan Pasar Sungai Penuh M. Daffa Nugraha (kanan). (Dok. Pribadi)

Bagaimana orang tua hebat? Tertarik untuk melakukannya? Saya yakin orang tua hebat pasti akan berkreativitas dan berinovasi dengan berbagai ide dan trik dalam meningkatkan kemampuan literasi anak-anaknya di lingkungan keluarga. Jangan sampai perkembangan zaman dan kesibukan orang tua menjadi dinding pembatas keakraban orang tua dengan anak-anaknya. Bayangkan orang tua hebat, tradisi makan malam yang menjalin keakraban antara anggota keluarga sekarang telah luntur oleh layar gadget yang dianggap lebih menarik. Oleh sebab itu, sebagai orang tua hebat mari ciptakan suasana yang menyenangkan dalam menumbuhkan semangat literasi di keluarga. Keluarga Hebat, Literasi Meningkat, Indonesia Bermartabat.

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga


Sumber:

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=5015

Kemendikbud. 2017. Panduan Gerakan Literasi Nasional. Jakarta: Kemendikbud

Purwanto, M. Ngalim. 2009. Ilmu pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya

Setyorini, W. W., & Kurnaedi, N. (2018, December). PENTINGNYA FIGUR ORANG TUA DALAM PENGASUHAN ANAK. In PROSIDING SEMINAR NASIONAL PSIKOLOGI UNISSULA.

Jumat, 11 November 2016

Keunggulan Penggunaan Media Model

Keunggulan Penggunaan Media Model

Media model juga memiliki beberapa kelebihan terhadap penggunaannya dalam proses pembelajaran. Menurut Aristo (2003:25) bahwa “Penggunaan media model dalam proses pembelajaran dimaksud untuk mengatasi kendala tertentu untuk pengadaan realita”.

Sedangkan menurut Subana (2005:330) kelebihan media model yaitu:
(1) dapat dibuat dari bahan yang murah dan mudah didapat, (2) dapat dipakai berulang-ulang, (3) dapat melukiskan bentuk dan keadaan yang sebenarnya, (4) besarnya dapat ditentukan dari yang sebenarnya, (5) dapat digunakan untuk memdemonstrasikan cara kerja suatu alat, (6) dapat digunakan sebagai alat untuk bongkarpasang suatu alat, (7) dapat digunakan untuk memperlihatkan bagian dalam  sesuatu yang dalam keadaan, yang sebenarnya tidak bisa dilihat

Dari pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa media model memiliki beberapa keuntungan dalam penggunaan diantaranya adalah untuk mengatasi kendala tertentu untuk pengadaan realita, media model dapat menyerupai benda yang sebenarnya, karena  media model dapat dimodifikasi sesuai dengan ukuran yang diperlukan, dan dapat memperjelas apa-apa yang diperlukan dalam proses pembelajaran karena media model dapat dibongkar pasang dalam pemakainnya.

Sumber:

Aristo Rahadi. 2003. Model dalam Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas, Diren, PDM, Direktorat Tenaga Kependidikan

Subana, dkk. 2005. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Setia

Senin, 17 Oktober 2016

Tujuan Metode VCT

Tujuan Metode VCT

Salah satu karakteristik VCT (Value Clarification Technique) sebagai suatu model dalam strategi  pembelajaran sikap adalah proses pemahaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya dalam diri siswa, kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai baru yang hendak ditanamkan sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran moral.

 Menurut Wina  (2008:284) tujuan VCT adalah:
(1) untuk mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai, (2) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik tingkatnya maupun sifatnya (positif dan negatifnya) untuk kemudian dibina kearah peningkatan dan pembetulannya, (3) untuk menanamkan nilai-nilai tertentu kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa, sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik siswa, (4) melatih siswa bagaimana cara menilai, menerima, serta mengambil keputusan terhadap sesuatu persoalan dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari dimasyarakat.

Sumber:

Wina Sanjaya.2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Kencana

Sabtu, 15 Oktober 2016

Penggunaan Metode VCT

Penggunaan Metode VCT

Pengajaran VCT merupakan pola pengajaran tidak monoton, guru tidak mendominasi seluruh waktu dan siswa, dan perataan aktivitas potensi diri serta keanekaragaman kemampuan siswa lebih dapat terlayani.

Kegunaan pengajaran VCT (Value Clarification Technique) menurut Djahiri (1997:131) adalah untuk:
(1) membantu kemudahan proses klasifikasi (kejelasan) nilai-moral yang harus dikaji dan diserap  peserta didik, sosok diri yang bersangkutan maupun kehidupan umum, (2) memudahkan dan meningkatkan keberhasilan proses Internalisasi dan personalisasi nilai-moral-norma yang disampaikan atau diharapkan, (3) memantapkan dan memperluas hasil belajar peserta didik, (4) meningkatkan kadar CBSA dan mengajar guna secara lebih manusiawi, penuh gairah dan menyenangkan, (5) meningkatkan kepaduan proses kegiatan belajar siswa kognitif dengan afektif dan psikomotorik, (6) meningkatkan kepaduan antara dunia persekolahan/ilmu pengetahuan dengan dunia kehidupan nyata.

Sumber:

Kosasih Djahiri, Azis Wahab. 1996. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral. Jakarta: Rineka Cipta

Kamis, 13 Oktober 2016

Prinsip-prinsip Pelaksanaan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Prinsip-prinsip Pelaksanaan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Satu hal yang perlu diingat dalam pelaksanaan PKB harus dapat mematuhi prinsip-prinsip sebagai berikut.
  1. PKB harus fokus kepada keberhasilan peserta didik atau berbasis hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu, PKB harus menjadi bagian integral dari tugas guru sehari-hari.
  2. Setiap guru berhak mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri yang perlu diimplementasikan secara teratur, sistematis, dan berkelanjutan. Untuk menghindari kemungkinan pengalokasian kesempatan pengembangan yang tidak merata, proses penyusunan program PKB harus dimulai dari sekolah. 
  3. Sekolah wajib menyediakan kesempatan kepada setiap guru untuk mengikuti program PKB dengan minimal jumlah jam per tahun sesuai dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan/atau sekolah berhak menambah alokasi waktu jika dirasakan perlu.
  4. Bagi guru yang tidak memperlihatkan peningkatan setelah diberi kesempatan untuk mengikuti program PKB sesuai dengan kebutuhannya, maka dimungkinkan diberikan sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Sanksi tersebut tidak berlaku bagi guru, jika sekolah tidak dapat memenuhi kebutuhan guru untuk melaksanakan program PKB.
  5. Cakupan materi untuk kegiatan PKB harus terfokus pada pembelajaran peserta didik, kaya dengan materi akademik, proses pembelajaran, penelitian pendidikan terkini, dan teknologi dan/atau seni, serta menggunakan pekerjaan dan data peserta didik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 
  6. Proses PKB bagi guru harus dimulai dari guru sendiri.  Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan PKB, kegiatan pengembangan harus melibatkan guru secara aktif sehingga betul-betul terjadi perubahan pada dirinya, baik dalam penguasaan materi, pemahaman konteks, keterampilan, dan lain-lain sesuai dengan tujuan peningkatan kualitas layanan pendidikan di sekolah. 
  7. PKB yang baik harus berkontribusi untuk mewujudkan visi, misi, dan nilai-nilai yang berlaku di sekolah dan/atau kabupaten/kota. Oleh karena itu, kegiatan PKB harus menjadi bagian terintegrasi dari rencana pengembangan sekolah dan/atau kabupaten/ kota dalam melaksanakan peningkatan mutu pendidikan yang disetujui bersama antara sekolah, orangtua peserta didik, dan masyarakat.
  8. Sedapat mungkin kegiatan PKB dilaksanakan di sekolah atau dengan sekolah di sekitarnya (misalnya di gugus KKG atau MGMP) untuk menjaga relevansi kegiatannya dan juga untuk mengurangi dampak negatif pada lingkungan yang disebabkan jika guru dalam jumlah besar bepergian ke tempat lain.
  9. PKB harus mendorong pengakuan profesi guru menjadi lapangan pekerjaan yang bermartabat dan memiliki makna bagi masyarakat dalam pencerdasan bangsa, dan sekaligus mendukung perubahan khusus di dalam praktik-praktik dan pengembangan karir guru yang lebih obyektif, transparan dan akuntabel.

Minggu, 09 Oktober 2016

Komponen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Komponen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Dalam konteks Indonesia, PKB adalah pengembangan keprofesian berkelanjutan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan guru untuk mencapai standar kompetensi profesi dan/atau meningkatkan kompetensinya di atas standar kompetensi profesinya yang sekaligus berimplikasi kepada perolehan angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru. Sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, selain kedua unsur utama lainnya, yakni: (i) pendidikan; dan (ii) pembelajaran/pembimbingan dan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan; PKB adalah unsur utama yang kegiatannya juga diberikan angka kredit untuk pengembangan karir guru. Dalam Permennegpan tersebut juga dijelaskan bahwa PKB mencakup tiga hal; yakni pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif.

1.    Pelaksanaan Pengembangan Diri
Pengembangan diri adalah upaya-upaya untuk meningkatkan profesionalisme diri agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan agar mampu melaksanakan tugas pokok dan kewajibannya dalam pembelajaran/pembimbingan termasuk pelaksanaan tugas-tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/ madrasah. Kegiatan pengembangan diri terdiri dari diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru untuk mencapai dan/atau meningkatkan kompetensi profesi guru yang mencakup: kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sedangkan untuk mampu melaksanakan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, program PKB diorientasikan kepada kegiatan peningkatan kompetensi sesuai dengan tugas-tugas tambahan tersebut (misalnya kompetensi bagi kepala sekolah, kepala laboratorium, kepala perpustakaan, dsb).

Diklat fungsional adalah kegiatan guru dalam mengikuti pendidikan atau latihan yang bertujuan untuk mencapai standar kompetensi profesi yang ditetapkan dan/atau meningkatkan keprofesian untuk memiliki kompetensi di atas standar kompetensi profesi  dalam kurun waktu tertentu. Minimal sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Sedangkan kegiatan kolektif guru adalah kegiatan guru dalam mengikuti kegiatan pertemuan ilmiah atau kegiatan bersama yang bertujuan untuk mencapai standar atau di atas standar kompetensi profesi yang telah ditetapkan. Kegiatan kolektif guru mencakup: (1) kegiatan lokakarya atau kegiatan kelompok guru untuk penyusunan kelompok kurikulum dan/atau pembelajaran; (2) pembahas atau peserta pada seminar, koloqium, diskusi pannel atau bentuk pertemuan ilmiah yang lain; dan (3) kegiatan kolektif lain yang sesuai dengan tugas dan kewajiban guru.  

Kegiatan pengembangan diri yang mencakup diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru tersebut harus mengutamakan kebutuhan guru untuk pencapaian standar dan/atau peningkatan kompetensi profesi khususnya berkaitan dengan melaksanakan layanan pembelajaran. Kebutuhan tersebut mencakup antara lain (1) kompetensi menyelidiki dan memahami konteks di tempat guru mengajar; (2) penguasaan materi dan kurikulum; (3) penguasaan metode mengajar; (4) kompetensi melakukan evaluasi peserta didik dan pembelajaran; (5) penguasaan teknologi informatika dan komputer (TIK); (6) kompetensi menghadapi inovasi dalam sistem pendidikan di Indonesia, termasuk UU No 14 Tahun 2005 dan PP No 74 Tahun 2008, dsb; (7) kompetensi menghadapi tuntutan teori terkini; dan (8) kompetensi lain yang terkait dengan pelaksanaan tugas-tugas tambahan atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.

2.    Pelaksanaan Publikasi  Ilmiah 
Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 kelompok kegiatan, yaitu:
a.    presentasi pada forum ilmiah; sebagai pemrasaran/nara sumber pada seminar,  lokakarya ilmiah, koloqium atau diskusi ilmiah;

b.    publikasi ilmiah hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal.  Publikasi ilmiah ini mencakup pembuatan:
1) karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolahnya yang:
• diterbitkan/dipublikasikan dalam bentuk buku yang ber-ISBN dan diedarkan secara nasional atau telah lulus dari penilaian ISBN, 
• diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah/jurnal ilmiah tingkat nasional yang terakreditasi, provinsi, dan tingkat kabupaten/kota,
• diseminarkan di sekolah atau disimpan di perpustakaan.
2) tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikanyang dimuat di:
• jurnal tingkat nasional yang terakreditasi;
• jurnal tingkat nasional yang tidak terakreditasi/tingkat provinsi;
• jurnal tingkat lokal (kabupaten/kota/sekolah/-madrasah, dsb. 

c.    publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan dan/atau pedoman guru. Publikasi ini mencakup pembuatan:
1) buku pelajaran per tingkat atau buku pendidikan per judul yang:
• lolos penilaian BSNP
• dicetak oleh penerbit dan ber-ISBN
• dicetak oleh penerbit dan belum ber-ISBN
2) modul/diklat pembelajaran per semester yang digunakan di tingkat:
• provinsi dengan pengesahan dari Dinas Pendidikan Provinsi;
• kabupaten/kota dengan pengesahan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;
• sekolah/madrasah setempat.

3)    buku dalam bidang pendidikan dicetak oleh penerbit yang ber-ISBN dan/atau tidak ber-ISBN;

4)    karya hasil terjemahan yang dinyatakan oleh kepala sekolah/ madrasah tiap karya;

5)    buku pedoman guru.

3.    Pelaksanaan Karya inovatif
Karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi atau penemuan baru sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan, sains/teknologi, dan seni. Karya inovatif ini mencakup:
a.   penemuan teknologi tepat guna kategori kompleks dan/atau sederhana;
b.   penemuan/peciptaan atau pengembangan karya seni kategori kompleks dan/atau sederhana;
c. pembuatan/pemodifikasian alat pelajaran/peraga/-praktikum kategori kompleks dan/ atau sederhana;
d.    penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya pada tingkat nasional maupun provinsi. 

Secara singkat, gambar di bawah ini menggambarkan komponen PKB yang dapat diberikan angka kredit. Angka Kredit ini diperlukan untuk kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru.

Sumber:

Pengertian Pengambangan Keprofesian Berkelanjutan

Pengertian Pengambangan Keprofesian Berkelanjutan

PKB adalah bentuk pembelajaran berkelanjutan bagi guru yang merupakan kendaraan utama dalam upaya membawa perubahan yang diinginkan berkaitan dengan keberhasilan siswa. Dengan demikian semua siswa diharapkan dapat mempunyai pengetahuan lebih, mempunyai keterampilan lebih baik, dan menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang materi ajar serta mampu memperlihatkan apa yang mereka ketahui dan mampu melakukannya. PKB mencakup berbagai cara dan/atau pendekatan dimana guru secara berkesinambungan belajar setelah memperoleh pendidikan dan/atau pelatihan awal sebagai guru. PKB mendorong guru untuk memelihara dan meningkatkan standar mereka secara keseluruhan mencakup bidang-bidang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai profesi. Dengan demikian, guru dapat memelihara, meningkatkan dan memperluas pengetahuan dan keterampilannya serta membangun kualitas pribadi yang dibutuhkan di dalam kehidupan profesionalnya.

Melalui kesadaran untuk memenuhi standar kompetensi profesinya serta upaya untuk memperbaharui dan meningkatkan kompetensi profesional selama periode bekerja sebagai guru, PKB dilakukan dengan komitmen secara holistik terhadap struktur keterampilan dan kompetensi pribadi atau bagian penting dari kompetensi profesional. Dalam hal ini adalah suatu komitmen untuk menjadi profesional dengan memenuhi standar kompetensi profesinya, selalu memperbaharuimya, dan secara berkelanjutan untuk terus berkembang. PKB merupakan kunci untuk mengoptimalkan kesempatan pengembangan karir baik saat ini maupun ke depan.  Untuk itu, PKB harus mendorong dan mendukung perubahan khususnya di dalam praktik-praktik dan pengembangan karir guru.

Pada prinsipnya, PKB mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi yang didesain untuk meningkatkan karakteristik, pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan sebagaimana digambarkan pada diagram berikut ini (diadopsi dari Center for Continuous Professional Development (CPD). University of Cincinnati Academic Health Center. http://webcentral.uc.edu/-cpd_online2). Dengan perencanaan dan refleksi pada pengalaman belajar guru dan/atau praktisi pendidikan akan mempercepat pengembangan pengetahuan dan keterampilan guru serta kemajuan karir guru dan/atau praktisi pendidikan.

PKB adalah bagian penting dari proses pengembangan keprofesionalan guru. PKB tidak terjadi secara ad-hoc tetapi dilakukan melalui pendekatan yang diawali dengan perencanaan untuk mencapai standar kompetensi profesi (khususnya bagi guru yang belum mencapai standar kompetensi sesuai dengan hasil penilaian kinerja, atau dengan kata lain berkinerja rendah), mempertahankan/menjaga dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan perolehan pengetahuan dan keterampilan baru. PKB dalam rangka pengembangan pengetahuan dan keterampilan merupakan tanggung-jawab guru secara individu sesuai dengan masyarakat pembelajar, jadi sangat penting bagi guru yang berada di ujung paling depan pendidikan. Oleh karena itu, agar PKB dapat mendukung kebutuhan individu dan meningkatkan praktik-praktik keprofesianalan maka kegiatan PKB harus:
  1. menjamin kedalaman pengetahuan terkait dengan materi ajar yang diampu;
  2. menyajikan landasan yang kuat tentang metodologi pembelaran (pedagogik) untuk mata pelajaran tertentu;
  3. menyediakan pengetahuan yang lebih umum tentang proses pembelajaran dan sekolah sebagai institusi di samping pengetahuan terkait dengan materi ajar yang diampu dan metodologi pembelaran (pedagogik) untuk mata pelajaran tertentu;
  4. mengakar dan merefleksikan penelitian terbaik yang ada dalam bidang pendidikan;
  5. berkontribusi terhadap pengukuran peningkatan keberhasilan peserta didik dalam belajarnya;
  6. membuat guru secara intelektual terhubung dengan ide-ide dan sumberdaya yang ada;
  7. menyediakan waktu yang cukup, dukungan dan sumberdaya  bagi guru agar mampu menguasai isi materi belajadan pedagogi serta mengintegrasikan dalam praktik-praktik pembelajaran sehari-hari;
  8. didesain oleh perwakilan dari mereka-mereka yang akan berpartisipasi dalam kegiatan PKB bekerjasama dengan para ahli dalam bidangnya;
  9. mencakup berbagai bentuk kegiatan termasuk beberapa kegiatan yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan saat itu.

Sumber:

Manfaat Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Manfaat Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) bagi guru memiliki tujuan umum untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah/madrasah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Sedangkan tujuan khusus PKB adalah sebagai berikut.
  1. Memfasiltasi guru untuk mencapai standar kompetensi profesi yang telah ditetapkan.
  2. Memfasilitasi guru untuk terus memutakhirkan kompetensi yang mereka miliki sekarang dengan apa yang menjadi tuntutan ke depan berkaitan dengan profesinya.
  3. Memotivasi guru-guru untuk tetap memiliki komitmen melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional.
  4. Mengangkat citra, harkat, martabat profesi guru, rasa hormat dan kebanggaan kepada penyandang profesi guru.
Manfaat PKB yang terstruktur, sistematik dan memenuhi kebutuhan peningkatan profesionalan guru adalah sebagai berikut.
1.    Bagi Siswa
Siswa memperoleh jaminan kepastian untuk mendapatkan pelayanan dan pengalaman belajar yang efektif untuk meningkatkan potensi diri secara optimal melalui penguasaan iImu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan perkembangan masyarakat abad 21 serta memiliki jati diri sebagai pribadi yang luhur sesuai nilai-nilai keluruhan bangsa.

2.    Bagi Guru
PKB memberikan jaminan kepada guru untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta kepribadian yang kuat sesuai dengan profesinya yang bermartabat, menarik, dan pilihan yang kompetitif agar mampu menghadapi perubahan internal dan eksternal dalam kehidupan abad 21 selama karirnya.

3.    Bagi Sekolah/Madrasah
PKB memberikan jaminan terwujudnya sekolah/madrasah sebagai sebuah organisasi pembelajaran yang efektif dalam rangka meningkatkan kompetensi, motivasi, dedikasi, loyalitas, dan komitmen pengabdian guru dalam memberikan layanan pendidikan yang berkualitas kepada peserta didik.

4.    Bagi Orang Tua/Masyarakat 
PKB memberikan jaminan bagi orang tua/masyarakat bahwa sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya masing-masing anak mereka di sekolah memperoleh bimbingan dari guru yang mampu bekerja secara profesional dan penuh tanggung jawab dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran secara efektif, efisien, dan berkualitas sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal, nasional dan global.

5.    Bagi Pemerintah 

Dengan kegiatan PKB, pemerintah mampu memetakan kualitas layanan pendidikan sebagai upaya pembinaan, pengembangan, dan peningkatan kinerja guru serta pembiayaannya dalam rangka mewujudkan kesetaraan kualitas antarsekolah sejenis dan setingkat.

Sumber:

Jumat, 07 Oktober 2016

Pengertian Metode VCT

Pengertian Metode VCT

Salah satu strategi pengajaran yang digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah teknik klasifikasi nilai atau Value Clarification Technique (VCT) atau teknik pembinaan sikap, nilai, dan moral. Nilai (Value) berhubungan dengan apa yang dianggap baik dan tidak baik, indah dan tidak indah, adil dan tidak adil, efisien dan tidak efisien.

VCT (value clarification technique) menurut Wina (2008:283) adalah “sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencapai dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa”. Sedangkan menurut (http://jurnaljpi.wordpress.com/) VCT (Value Clarification Teaching) adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa dalam menentukan nilai-nilai yang akan dipilih berdasarkan proses pengambilan nilai.

Senada dengan beberapa pendapat di atas, Djahiri (1997:130) menyatakan VCT (Value Clarification Technique) adalah “suatu nama/label dari suatu model pendidikan nilai dari moral atau pendidikan afektif”. Beberapa pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan VCT (Value Clarification Technique) merupakan  suatu metode dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk mengungkapkan nilai-nilai moral atau sikap peserta didik.” Nilai (value), menurut Djahiri (1999:122), harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna secara fungsional.

Sedangkan menurut Dictionary (dalam Winataputra:2007) nilai adalah harga atau kualitas suatu. Artinya, sesuatu dianggap memiliki nilai apabila sesuatu tersebut secara intrinsik memang berharga. Moral menurut Suseno (2007) adalah ukuran baik buruk seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara. Sedangkan pendidikan moral adalah pendidikan untuk menjadikan anak manusia bermoral baik dan manusiawi.  Sedangkan menurut Ouska dan Whellan (2007) moral adalah prinsip baik buruk yang ada dan melekat dalam diri individu/seseorang. Norma adalah tolak ukur/alat untuk mengukur benar salahnya suatu sikap dan tindakan manusia. Norma juga bisa diartikan sebagai aturan yang berisi rambu-rambu yang menggambarkan ukuran tertentu, yang didalamnya terkandung nilai benar/salah. Dalam Bahasa Inggris, norma diartikan sebagai standar. Disamping itu, norma juga biasa diartikan kaidah atau petunjuk hidup yang digunakan untuk mengatur prilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Sumber:

http://jurnal jpi.wordpress.com

Kosasih Djahiri, Azis Wahab. 1996. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral. Jakarta: Rineka Cipta

Udin S. Winataputra, dkk. 2006. Materi Pembelajaran PKn SD. Universitas Terbuka

Wina Sanjaya.2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Kencana

Rabu, 21 September 2016

Strategi KWL

Strategi KWL

Strategi mengajar adalah tindakan nyata dari guru atau merupakan praktek guru melaksanakan pengajaran melalui cara tertentu yang di nilai lebih efektif dan efisien (Sabri, 2007:2).dengan kata lain strategi merupakan daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar agar tujuan pembelajaran yang di rumuskan dapat tercapai dan berhasil guna. Strategi pembelajaran membaca sangat banyak jenisnya, separti strategi bawah-atas, strategi atas-bawah, strategi campuran (elektrik), strategi SQ3R, DRA, DRTA, KWL dan sebagainya.

Strategi KWL dikembangkan oleh Ogle tahun 1986, untuk membantu guru menghidupkan latar belakang pengetahuan dan minat siswa pada suatu topik. KWL adalah singkatan dari K (know) apa yang telah diketahui (sebelum membaca), W (want) apa yang hendak diketahui (sebelum membaca), L (learned) apa yang telah diketahui (setelah membaca). Teori tersebut ialah suatu teknik membaca kritis dimana pembaca mengingat dahulu apa yang telah diketahui apa yang telah diketahui atau menentukan apa yang ingin diketahui, melakukan pembacaan (bahan yang telah dipilih) akhirnya mengetahui apa yang telah diperoleh dari pembacaan yang telah dilakukan. Teknik pembacaan akan membiasakan pelajar mengaitkan pengetahuan yang telah dipelajari dengan apa yang dibaca dan menentukan apa yang telah diperoleh dari bacaan yang dibacanya (http://gurupkn.wordpress.com/2008/01). Startegi KWL memberikan kepada siswa tujuan membaca dan memberikan suatu peran aktif siswa sebelum, saat, dan sesudah membaca. Strategi ini memudahkan siswa memikirkan informasi baru yang diterimanya. Strategi ini memperkuat kemampuan siswa mengembangkan pertanyaan.

Strategi KWL melibatkan tiga langkah dasar yaitu:
1. Apa yang saya ketahui (K)
Merupakan kegiatan sumbang saran pengetahuan dan pengalaman sebelumnya tentang topik kemudian membangkitkan kategori informasi yang dialami dalam membaca ketika sumbang saran terjadi. Dalam diskusi kelas guru memiulainya dengan mengajukan pertanyaan seperti, apa yang kamu ketahui tentang ………? Guru menuliskan tanggapan siswa pada kolom K (know) dipapan tulis yang sudah terdapat lembaran panduan belajar KWL.  Kemudian dilanjutkan dengan diskusi dengan pertanyaan berikutnya seperti, dimana kamu mempelajari tentang itu? Atau bagaimana kamu mengetahuinya? Ketika siswa menggunakan gagasan dalam diskusi kelas dan partisipasi siswa mencatat informasi yang telah diketahui pada lemabaran panduan belajar bagi siswa. Setelah sumbang saran guru  bertanya pada siswa tentang jenis informasi yang sedang disajikan. Guru memberikan beberapa contoh kategori informasi yang dikumpulkan saat sumbang saran kemudian guru menyuruh siswa memikirkan kemungkinan kategori yang lain, setelah itu siswa mengemukakan kategori informasi yang pernah dibacanya.

Kegiatan menghimpun apa yang sedang diketahui (know) yang dihimpun dari kegiatan sumbang saran anggota kelas dengan kata lain dapat diistilahkan dengan Active Knowledge Sharing (Sabri, 2007:123) artinya yaitu saling tukar pengalaman. Dalam strategi ini, Sabri mengemukakan langkah yang dapat dimanfaatkan dalam menghimpun pengetahuan anak yaitu buatlah pertanyaan yang akan diajarkan buatlah penelitian pertanyaan itu dapat berupa, definisi suatu istilah, pertanyaan dalam bentuk Multiple Choice, mengidentifikasi seseorang, menanyakan sikap ataun tindakan yang mungkin dilakukan dan sebagainya. langkah apa yang saya ketahui (K) maupun Active Knowledge Sharing pada dasarnya bertujuan sama yaitu menghimpun konsep-konsep pengetahuan yang telah dimiliki siswa dan sama-sama dikemukakan didepan kelas sebagai sumbang saran atau pun tukar pengetahuan.

Strategi K (know) yang saya ketahui dalam KWL menyajikan langkah-langkah yang lebih khusus dan konsep ditulis langsung dalam kolom yang telah ditetapkan. Jika dibandingkan dengan Active Knowledge Sharing, strateginya lebih sederhana dan didominasi oleh bagaimana guru dalam memotivasi siswa mengeluarkan pengetahuan dan pengalamannya.

2. What I Want to Learn (W)
Guru menuntun siswa menentukan tujuan khusus membaca. Dari minat, rasa ingin tahu dan ketidakjelasan, yang ditimbulkan selama langkah pertama, guru memformulasikan kembali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa. Pertanyaan yang sudah diformulasikan dituliskan guru dipapan tulis pada kolom W dari panduan belajar KWL. Langkah W ini merupakan himpunan dari pertanyaan-pertanyan siswa atas gagasan, ketidakkonsistenan atau ada berbagai pandangan, perbedaan, pertentangan, dari informasi yang telah terhimpun pada langkah sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan dari siswa dijadikan tujuan pembahasan, kegiatan membaca dapat dilakukan pada tahap ini sebelum melakukan pembahasaan pertanyaan-pertanyaan pada langkah selanjutnya.

Menurut Sabri, (2007:122) menyebutkan Question Students Have (pertanyaan dari siswa) merupakan teknik yang mudah dapat dipakai untuk mengetahui kebutuhan dan harapan siswa. What I want to Learn (W) hanya memiliki beda istilah dengan Question Students Have, padahal teknik tersebut sama menggunakan elisitasi dalam memperoleh partisipasi siswa secara tertulis. Adapun langkah-langkah untuk menghimpun pertanyaan dari siswa dapat dilakukan dengan cara antara lain :
a. Minat setiap siswa untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang berkaiatan dengan materi pelajaran.
b. Beri respon kepada pertanyaan-pertanyaan siswa dengan jawaban langsung secara singkat dan menunda jawaban sampai waktu yang tepat atau pada waktu membahas topik.

3. What I Have Learned (L)
Langkah ini terjadi setelah membaca. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut untuk menentukan, memperluas dan menemukan seperangkat tujuan membaca. Sesudah itu siswa mencatat informasi yang mereka pelajari, mengidentifikasikan sisa pertanyaan yang belum  terjawab. Dengan cara ini guru memberikan penekanan pada tujuan membaca untuk memahami rasa ingin tahu pribadi siswa, tidak hanya sekedar disajikan dalam teks.

Sumber:

Ahmad Sabri. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Quantum Teaching

http://gurupkn.wordpress.com/2008/01

Rabu, 30 Desember 2015

Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Pembelajaran IPA

Pelaksanaan strategi pembelajaran berbasis masalah  dalam pembelajaran IPA dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahamannya tentang apa yang dipelajari sehingga mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan tersebut, pelaksanaan strategi pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran IPA dalam penelitian ini merujuk kepada pendapat Made (2009:94). Hal yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut:

a.    Tahap persiapan
Agar pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah dapat berjalan dengan efektif, perlu dilakukan persiapan sebelum pelaksanaannya. Persiapan yang perlu dilakukan sebelum pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Membuat rencana pembelajaran, di mana di dalamnya terdapat langkah-langkah proses pembelajaran yang akan dilaksanakan,
  2. Membuat atau memperbanyak LKS yang berisi tentang pertanyaan seputar permasalahan yang akan dibicarakan,
  3. Menyediakan media yang akan dibutuhkan dalam pembelajaran,
  4. Mempersiapkan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
b.    Tahap pelaksanaan
Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan strategi ini sangat dibutuhkan penjelasan dan arahan dari guru. Secara operasional, kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah sebagai berikut:
1)    Menemukan masalah
Pada tahap ini guru berusaha untuk memberikan permasalahan yang diangkat dari latar kehidupan yang bersifat tidak terdefinisi dengan jelas  sementara siswa berusaha menemukan permasalahan dengan cara melakukan kajian dan analisis secara cermat terhadap permasalahan yang diberikan.

2)    Mendefinisikan masalah
Dalam tahap ini, siswa berusaha untuk mendefinisikan permasalah dengan menggunakan kemampuannya dalam memahami masalah. Sementara guru berusaha untuk mendorong dan membimbing siswa untuk menggunakan kecerdasan intrapersonal dan kemampuan awalnya untuk memahami masalah yang diajukan.

3)    Mengumpulkan fakta
Pada tahap pengumpulan fakta ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a)    Siswa dibawah bimbingan guru melakukan pengumpulan fakta dengan menggunakan pengalaman-pangalaman yang telah diperolehnya
b)    Melakukan pencarian informasi dengan berbagai cara serta dengan menggunakan kecerdasan yang dimilikinya
c)    Melakukan pengelolaan/pengaturan informasi yang telah diperoleh dengan berpatokan kepada informasi yang telah ada.

4)    Menyusun hipotesis (dugaan sementara)
Pada tahap ini siswa berusaha untuk membuat hubungan antara berbagai fakta yang ada, menyusun hipotesis, serta berusaha untuk menyusun beberapa jawaban sementara. Sementara kegiatan guru adalah membimbing siswa untuk menyusun hipotesis terhadap permasalahan yang dihadapi serta membimbing siswa untuk menyusun alternatif jawaban sementara.

5)    Melakukan penyelidikan
Dalam tahap ini, siswa melakukan penyelidikan terhadap data dan informasi yang telah diperolehnya. Penyelidikan dilakukan dengan mencari fakta-fakta dari media cetak, elektronik, buku-buku pelajaran dan pengalaman yang pernah dialami siswa. Jika diperlukan penyelidikan dapat dilakukan dengan melakukan percobaan (esperimen).  Guru mengarahkan siswa dalam melakukan penyelidikan terhadap informasi dan data yang telah diperoleh.

6)    Menyempurnakan permasalah yang telah dikemukakan
Pada tahap ini guru membimbing siswa untuk melakukan penyempurnaan terhadap masalah yang telah didefinisikan, sementara siswa melakukan penyempurnaan masalah yang telah dirumuskan. 

7)    Menyimpulkan alternatif pemecahan masalah secara kolaboratif
Pada tahap ini guru mengarahkan siswa untuk menyimpulkan alternatif pemecahan masalah secara kolaboratif. Siswa membuat simpulan alternatif pemecahan masalah berdasarkan penyelidikan. 

8)    Memilih solusi pemecahan masalah yang tepat
Dalam tahap ini jika memungkinkan guru membimbing siswa melakukan pengujian hasil untuk memilih solusi 
pemecahan masalah yang tepat. 

Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah
Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
Dirujuk dari Made (2009:94, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Opersional)

c.    Tahap Penilaian
Tahap penilaian dilaksanakan pada akhir pembelajaran. Menurut Mulyasa (2007:258) menyatakan bahwa: “Penilaian bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap kompetensi yang telah dilakukan”. Data yang didapat siswa dapat ditetapkan, kemudian melakukan evaluasi sehingga menghasilkan simpulan.
Lebih lanjut Dave (dalam Kunandar, 2007:385) menyatakan bahwa:
Penilaian dalam pembelajaran harus meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ranah kgnitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Ranah afektif mencakup watak, perilaku, serta perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai. Ranah psikomotor mencakup imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi.

Berdasarkan dua pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pemberian penilaian dalam penilaian harus mencakup tiga ranah yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, sehingga keberhasilan pembelajaran dapat terlihat.

Sumber:

E. Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya

Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Made Wena. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara

Keunggulan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

Keunggulan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah sebagai salah satu strategi memiliki keunggulan dan kelemahan yang harus diperhatikan oleh seorang guru sehingga pembelajaran dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Menurut Martinis dan Bansu (2008:83) strategi pembelajaran berbasis masalah memiliki beberapa keunggulan, yaitu:

(1) mengembangkan pemecahan yang bermakna dalam rangka memahami materi ajar, (2) memberikan tantangan pada siswa sehingga merasa puas dari hasil penemuan baru itu, (3) melibatkan siswa secara aktif dalam belajar, (4) membantu siswa belajar mentransfer pengetahuan mereka ke dalam persoalan dunia nyata, (5) membantu siswa mengembangkan pengetahuan baru untuk kepentingan persoalan berikutnya, (6) dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa dan kemampuan mereka mengadaptasi situasi pembelajaran baru, (7) membantu siswa mengevaluasi pemahamannya dan mengidentifikasikan alur berpikirnya.

Lebih lanjut Wina (2008:220) menyebutkan pembelajaran berbasis masalah sebagai salah satu strategi dalam pembelajaran memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah: 

(1) Pembelajaran berbasis masalah merupakan strategi yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pembelajaran, (2) dapat menantang kemampuan siswa untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa, (3) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa, (4) membantu siswa mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata, (5) membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan, (6) memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti, bukan hanya sekedar belajar dari guru, (7) Pembelajaran berbasis masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa, (8) mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan kemampuan baru, (9) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya dalam dunia nyata, (10) mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pendidikan formal telah berakhir.

Dari pendapat kedua ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa keunggulan pembelajaran berbasis masalah secara umum adalah dapat mengembangan kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah dan dapat mengembangkan kemampuan intelektual siswa.

Sumber:

Martinis Yamin. 2008. Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Press

Wina Sanjaya. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group