• Guru SD Juga Memanfaatkan TIK

    Seorang guru harus selalu belajar untuk meningkatkan profesionalisme. Salah satu cara untuk meningkatkan profesionalisme seorang guru adalah dengan menguasai Teknologi Informasi...

  • Sudut Baca Kreatif Kelas V Putri

    Video ini berisi tentang sudut baca yang dibuat oleh Kelompok Putri Kelas V TP. 2016/2017 SDN 001/XI Kelurahan Pasar Sungai Penuh. Sudut baca yang dibuat dengan penuh kreatifitas ini...

  • Menghargai Keputusan Bersama

    Materi Pokok: Menghargai Keputusan Bersama Mata Pelajaran: Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelas/ Semester: V/ II A. PENGERTIAN KEPUTUSAN BERSAMA Keputusan adalah segala putusan yang telah ditetapkan...

Tampilkan postingan dengan label IPS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2016

Perjuangan Dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Materi Pokok         : Perjuangan Dalam Mempertahankan Kemerdekaan
Mata Pelajaran      : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/ Semester   : V/ II

Perjuangan Dalam Mempertahankan Kemerdekaan

A. PERJUANGAN FISIK DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN
Pada tanggal 8 September 1945 tentara sekutu tiba di Indonesia. Kedatangan tentara Sekutu di Indonesia disambut baik oleh rakyat. Tujuan mereka, yaitu melucuti senjata tentara Jepang, membebaskan tawanan Jepang, dan mencari penjahat perang. Namun, kedatangan tentara Sekutu diboncengi orang-orang Belanda. Belanda datang kembali ke Indonesia untuk membuat pemerintahan sipil yang disebut NICA (Netherland Indies Civil Administration). Tindakan tersebut mendapat perlawanan dari para pejuang Indonesia.

1. Pertempuran 10 November
Tentara Sekutu (Inggris) pertama kali menda¬rat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Pendaratan ini dipimpin Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Dua hari kemudian tentara Inggris menyerbu penjara republik untuk membebaskan perwira-perwira Sekutu. Pada tanggal 28 Oktober 1945, pos-pos Sekutu di seluruh kota Surabaya diserang oleh rakyat Indonesia. Dalam berbagai serangan itu, pasukan Sekutu terjepit. Pada tanggal 29 Oktober 1945, para pemuda dapat menguasai tempat-tempat yang telah dikuasai Sekutu.

Pada tanggal 30 Oktober 1945 terjadi pertempuran di gedung Bank International, tepatnya di Jembatan Merah. Dalam peristiwa itu, Brigjen Mallaby tewas. Menanggapi peristiwa ini, pada tanggal 9 November 1945, pimpinan sekutu di Surabaya mengeluarkan ultimatum. Isi ultimatum itu adalah: “Semua pemimpin dan orang-orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat-tempat yang telah ditentukan, kemudian menyerahkan diri dengan mengangkat tangan. Batas waktu ulti¬matum tersebut adalah pukul 06.00 tanggal 10 November 1945. Jika sampai batas waktunya tidak menyerahkan senjata, maka Surabaya akan diserang dari darat, laut, dan udara”.

Batas waktu itu tidak diindahkan rakyat Surabaya. Oleh karena itu, pecahlah pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Salah satu pemimpin arek-arek Surabaya, antara adalah Bung Tomo. Untuk memperingati kepahlawanan rakyat Surabaya itu, pemerintah menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

2. Bandung Lautan Api
Tentara Sekutu memasuki Kota Bandung pada Oktober 1945. Tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum yang isinya agar para pemuda menyerahkan senjata yang dirampas dari tangan Jepang. Ultimatum tersebut tidak diindahkan oleh para pemuda. Pada 23 Maret 1946, pasukan Sekutu mengeluarkan ultimatum kedua. Isinya agar Kota Bandung bagian selatan segera dikosongkan. Para pejuang yang dipimpin Kolonel A.H. Nasution sepakat untuk mematuhi ultimatum demi keselamatan rakyat dan kepentingan politik pemerintah RI.

Sebelum meninggalkan Kota Bandung, para pejuang membumi hanguskan Kota Bandung. Pada malam hari 23 Maret 1946, gedung-gedung penting dibakar. Peristiwa tersebut dikenal dengan “Bandung Lautan Api”. Dalam peristiwa tersebut, gugur seorang pejuang Mohammad Toha.

3. Pertempuran Medan Area
Pasukan Inggris di bawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mulai mendarat di Medan (Sumatera Utara) pada tanggal 9 Oktober 1945. Para pemuda dipelopori oleh Achmad Tahir, seorang mantan perwira Tentara Sukarela (Giyugun) membentuk Barisan Pemuda Indonesia.

Pada tanggal 13 Oktober 1945 terjadi insiden di sebuah hotel di Jalan Bali, Medan. Seorang anggota NICA menginjak-injak bendera merah putih yang dirampas dari seorang pemuda. Pada tanggal 1 Desember 1945 pihak Inggris memasang papan-papan pengumuman bertuliskan “Fixed Boundaries Medan Area.” Dengan cara itu, Inggris menetapkan secara sepihak batas-batas kekuasaan mereka. Sejak saat itulah dikenal istilah Pertempuran Medan Area.

4. Pertempuran Ambarawa
“Pertempuran Ambarawa” diawali oleh mendaratnya tentara Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Bethel di Semarang. Pada tanggal 21 November 1945 terjadi pertempuran, dalam pertempuran itu, Letnan Kolonel Isdiman gugur. Pimpinan pasukan kemudian dipegang oleh Kolonel Sudirman, Panglima Divisi Banyu¬mas.

Pada 12 sampai 15 Desember 1945 terjadi pertempuran hebat yang dikenal dengan sebutan Palagan Ambarawa. Dalam pertempuran ini Sekutu dapat diusir ari Ambarawa. Peristiwa ini diabadikan oleh pemerintah dengan dibangunnya Untuk mengenang peristiwa ini, dibuatlah Monumen Palagan Ambarawa. Pada 15 Desember dijadikan sebagai Hari Infanteri.

5. Pertempuran Lima Hari di Semarang
Pada tanggal 15 — 20 Oktober 1945 di Sema¬rang terjadi pertempuran hebat antara pejuang Indonesia dengan tentara Jepang. Peristiwa ini diawali dengan adanya desas-desus bahwa cadangan air minum di Candi, Semarang diracun oleh Jepang. Untuk membuktikan kebenarannya, Dr. Karyadi, kepala laboratorium Pusat Rumah Sakit Rakyat melakukan pemeriksaan. Pada saat melakukan pemeriksaan, ia ditembak oleh Jepang sehingga gugur. Dengan gugurnya Dr. Karyadi kemarahan rakyat khususnya pemuda tidak dapat dihindarkan dan terjadilah pertempuran yang menimbulkan banyak korban jiwa. Untuk mengenang peristiwa itu, di Semarang didirikan Tugu Muda. Untuk mengenang jasa Dr. Karyadi diabadikan menjadi nama sebuah Rumah Sakit Umum di Semarang.

6. Perang Puputan di Bali

Perang Puputan di Bali dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya, Ciung Wanara. Pertempuran ini dimulai April 1946 di Denpasar. Mereka bertahan di Desa Marga. Di daerah ini pasukan I Gusti Ngurah Rai mengadakan perang habis-habisan (Puputan). Akhirnya I Gusti Ngurah Rai dan sebagian besar pasukannya meninggal. Perang ini juga disebut pertempuran Margarana (18 November 1946).

B. PERJUANGAN DIPLOMASI DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

1. Perundingan Linggajati
Dalam upaya perdamaian, Inggris memper¬temukan Belanda dan Indonesia di Linggajati, sebelah Selatan Cirebon (sekarang Kabupaten Kuningan), Jawa Barat. Dalam perundingan ini Indonesia diwakili oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir, Belanda diwakili oleh Van Mook.
Hasil perundingan ditandatangani pada 25 Maret 1947. Isinya sebagai berikut.
(1) Belanda mengakui wilayah Indonesia secara de facto yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura.
(2) Republik Indonesia bersama Belanda bekerja sama membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS).
(3) Bersama-sama membentuk Uni Indonesia Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.

2. Agresi Militer Belanda I
Pada 21 Juli 1947, Belanda melakukan serangan militer yang disebut sebagai Agresi Militer Belanda I. TNI melawan serangan agresi Belanda tersebut menggunakan taktik gerilya. TNI berhasil membatasi gerakan Belanda hanya di kota-kota besar saja dan di jalan raya.
Untuk menyelesaikan masalah Indonesia-Belanda, pihak PBB membentuk Komisi yang dikenal dengan nama Komisi Tiga Negara (KTN). Tugas KTN adalah menghentikan sengketa RI-Belanda. Indonesia diwakili oleh Australia, Belanda diwakili oleh Belgia, dan Amerika Serikat sebagai penengah. Adapun delegasinya adalah sebagai berikut!
a. Australia, diwaktli oleh Richard Kirby
b. Belgia, diwakili oleh Paul Van Zeland
c. Amerik.a Serikat, diwakili oleh Dr. Frank Graham.

3. Perjanjian Renville
Pada tanggal 8 Desember 1948 di atas kapal Amerika Serikat “USS Renville” yang sedang berlabuh di Teluk Jakarta diadakan perjanjian Renville. Dalam perundingan itu Negara Indone¬sia, Belanda, dan masing-masing anggota KTN diwakili oleh sebuah delegasi.
1) Delegasi Indonesia dipimpin oleh Mr. Amir Syarifuddin.
2) Delegasi Belanda dipimpin oleh R. Abdul Kadir Wijoyoatmojo.
3) Delegasi Australia dipimpin oleh Richard C. Kirby.
4) Delegasi Belgia dipimpin oleh Paul van Zeeland.
5) Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Frank Porter Graham.

Perjanjian Renville sangat merugikan pihak Indonesia karena wilayahnya makin sempit. Isi perjanjian Renville, antara lain sebagai berikut.
(1) Belanda tetap berdaulat atas seluruh wilayah Indonesia sampai dengan terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS).
(2) Sebelum RIS dibentuk, Belanda dapat menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada pemerintah federal.
(3) RIS mempunyai kedudukan sejajar dengan Negara Belanda dalam Uni Indonesia-Belanda.
(4) Republik Indonesia merupakan bagian dari RIS.

4. Agresi Militer Belanda II
Pada 18 Desember 1948, Belanda di bawah pimpinan Dr. Bell mengumumkan bahwa Belanda tidak terikat lagi oleh Persetujuan Renville. Pada 19 Desember 1948 Belanda mengadakan Agresi Militer II ke ibu kota Yogyakarta. Dalam agresi itu Belanda dapat menguasai Yogyakarta.

Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditawan dan diasingkan ke Pulau Bangka. Beliau lalu mengirimkan mandat lewat radio kepada Mr. Syaffruddin Prawiranegara. Isinya agar membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), di Bukit Tinggi Sumatra Barat.

Pada 1 Maret 1949 Brigade X mengadakan serangan umum ke Yogyakarta. Penyerangan ini dipimpin Letkol. Soeharto. Serangan ini memakai sandi “Janur Kuning”. Serangan ini dikenal juga dengan “Serangan Umum 1 Maret”. Dalam penyerangan ini Tentara Republik Indonesia dalam serangan ini berhasil menduduki Kota Yogyakarta selama 6 jam.

C. PERUNDINGAN DALAM USAHA PENGAKUAN KEDAULATAN
Indonesia telah beberapa kali mengadakan perundingan dengan Belanda. Namun, perjanjian itu selalu dilanggar oleh Belanda. Selanjutnya, komisi PBB untuk Indonesia atau UNCI (United Nations Comission for Indonesia) mempertemukan kembali Belanda dengan Indonesia di meja perundingan.
1. Perjanjian Roem-Royen
Perjanjian Roem-Royen ditandatangani di Jakarta pada 7 Mei 1949. Pihak Indonesia dipimpin oleh Mr. Moh. Roem dengan anggota Drs. Moh. Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan Belanda diwakili oleh Dr. Van Royen. Isi perjanjian Roem-Royen sebagai berikut.
(1) Penghentian tembak-menembak antara Indonesia dan Belanda.
(2) Pengembalian pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta.
(3) Pembebasan para pemimpin RI yang ditahan Belanda.
(4) Segera mengadakan Konferensi Meja Bundar di Den Hag, Belanda.

2. Konferensi Inter- Indonesia (KII)
KII diadakan oleh bangsa Indonesia sendiri, yaitu antara delegasi RI dan BFO (Bijeen komstvoor Federal Overleg). Dalam konferensi ini delegasi RI dipimpin Drs. Moh. Hatta. BFO dip¬impin oleh Sultan Hamid II. Tujuan konferensi ini untuk mempersatukan pendapatan yang akan diperjuangkan dalam KMB.

3. Konferensi Meja Bundar (KMB)
Konferensi Meja Bundar (KMB) dilaksanakan pada 12 Agustus hingga 2 November 1949 di Den Haag, Belanda. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta. Delegasi Negara Federal atau BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II. Delegasi Belanda dipimpin oleh Mr. van Maarseveen. Dari UNCI sebagai pengawas dan penengah diwakili oleh Chritchley. Hasil perjanjian KMB sebagai berikut.
1) Dibentuknya Negara Indonesia Serikat (RIS) dan Belanda akan menyerahkan kedaulatan kepada RIS pada akhir Desember 1949.
2) Akan dibentuk Uni Indonesia-Belanda.
3) Irian Barat akan diserahkan kepada RIS setahun setelah penyerahan kedaulatan oleh Belanda

D. MENGHARGAI BEBERAPA TOKOH PERJUANGAN DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN
1. Ir. Soekarno
Pada saat Agresi Militer Belanda I, pada 19 Desember 1948, Ir. Soekarno ditangkap dan diasingkan ke Bangka.

2. Drs. Mohammad Hatta
Beliau selalu tampil di berbagai perundingan dalam penyelesaian masalah pengakuan kedaulatan RI. Bung Hatta selalu ‘berusaha memperbaiki ekonomi rakyat. Atas gagasan beliaulah di Indonesia didirikan koperasi sehingga mendapat julukan sebagai bapak koperasi Indonesia. Pada 1 Desember 1956, Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden RI.

3. Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah seorang raja. Ia juga sebagai pemimpin perjuangan bangsa dalam menghadapi serbuan Belanda. Pada 19 Agustus 1945, ia menyatakan bahwa Yogyakarta yang berbentuk kerajaan itu menjadi bagian dari negara Republik Indonesia.

Pada serangan umum 1 Maret 1949, Sultan Hamengkubuwono IX membantu TNI dengan membangun kubu pertahanan di dalam keraton sebagai tempat persembunyian. Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga turut berperan dalam menandatangani hasil KMB di Belanda.

Dalam sidang kabinet pertama RI pada 13 Juli 1949, beliau terpilih sebagai Menteri Koordinator Pertahanan. Jabatan penting lain yang pernah dipegang, antara lain wakil perdana mentri, Ketua Badan Pengawas Keuangan, dan Menteri Utama bidang Ekonomi dan Keuangan.

Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Materi Pokok         : Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Mata Pelajaran      : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/ Semester   : V/ II

Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

A. PERTEMUAN DI DALAT
Dalam perang Pasik, Jepang semakin terpojok. Puncaknya, pada 6 Agustus 1945, Kota Hiroshima di Jepang dibom oleh Amerika Serikat. Pada 9 Agustus 1945 Kota Nagasaki juga dibom oleh Amerika Serikat. Akhirnya, pada 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kalah kepada Sekutu.

Pada tanggal 12 Agustus 1945 tiga tokoh pergerakan nasional, yaitu Dr.Radjiman Wedyodiningrat, Ir. Sukarno, dan Drs. Mohammad Hatta memenuhi undangan Jenderal Marsekal Terauchi di Dalat (Vietnam Selatan). Di Dalat ketiga pemimpin Indonesia tersebut diberitahu tentang keputusan pemerintah Jepang untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

B. PERISTIWA RENGASDENGKLOK

Pada 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada sekutu. Berita penyerahan Jepang ini didengar Sutan Syahrir dari siaran radio Amerika. Selanjutnya, Subadio Sastrosatomo dan Subianto menemui Drs. Moh. Hatta. Mereka meminta Drs. Moh. Hatta supaya mencegah PPKI mengumumkan kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia harus diperoleh dengan kekuatan sendiri. Malamnya, sekitar pukul 20.00, golongan muda revolusioner mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur. Rapat ini antara lain dihadiri oleh Chairul Saleh, Wikana, Margono, Armansyah, dan Kusnandar. Dalam rapat itu golongan muda memutuskan tuntutan agar Proklamasi Kemerdekaan dinyatakan oleh Ir. Sukarno pada keesokan harinya (16 Agustus 1945).

Keputusan rapat pada tanggal 15 Agustus 1945 sore, disampaikan oleh Wikana dan Darwis kepada Sukarno namun Soekarno menolak. Utusan golongan muda mengancam akan terjadi pertumpahan darah jika tuntutan golongan muda tidak dilaksanakan. Peristiwa menegangkan itu disaksikan oleh golongan tua, seperti Mohammad Hatta, Ahmad Subarjo, Dr. Buntaran, Dr. Sanusi, dan Iwa Kusumasumantri.

Pagi hari 16 Agustus 1945, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa ke Rengas dengklok. Tujuan “penculikan” itu adalah menjauhkan kedua pemimpin nasional itu dari pengaruh Jepang. Sementara itu, di Jakarta, golongan tua dan golongan muda sepakat bahwa proklamasi kemerdekaan dilakukan di Jakarta. Golongan tua diwakili Mr. Ahmad Subarjo dan golongan muda yang diwakili Wikana.

Pukul 16.00 sore hari Ahmad Subarjo diantar oleh Yusuf Kunto pergi ke Rengasdengklok. Ahmad Subarjo memberi jaminan kepada para pemuda bahwa proklamasi akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta selambat lambatnya pukul 12.00 WIB.

C. PERUMUSAN TEKS PROKLAMASI
Perumusan naskah proklamasi dilakukan di rumah Laksamana Maeda yaitu Jalan Imam Bonjol No. 1. Dalam penyusunan naskah proklamasi Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikiran secara lisan pada kalimat pertama yang berbunyi pernyataan bangsa Indonesia untuk mengubah nasibnya sendiri. Drs Mohammad Hatta menambahkan kalimat kedua sebagai pernyataan pengalihan kekuasaan. Ir. Soekarno menulis konsep Proklamasi pada secarik kertas oleh Ir. Soekarno. Penulisan ini disaksikan oleh Sayuti Melik, BM. Diah, dan Sudiro.

Sebelum ditandatangani, naskah tersebut diketik lebih dahulu oleh Sayuti Melik. Dalam naskah hasil pengetikan tersebut, terdapat tiga perubahan dari teks asli yang ditulis oleh Ir. Sukarno. Perubahan-perubahan tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Kata “Tempoh” diubah menjadi “Tempo”.
2. Kalimat “wakil-wakil bangsa Indonesia” diubah menjadi “atas nama bangsa Indonesia”.
3. Tulisan “Djakarta, 17 – 8 –’ 05” menjadi “Jakarta , hari 17 bulan 8 tahun ‘05”. Angka tahun 05 merupakan singkatan angka tahun 2605 menurut kalender Jepang.

D. DETIK-DETIK PROKLAMASI
Hasil rapat disepakati bahwa teks Proklamasi kemerdekaan akan dibacakan di depan rumah Ir. Soekarno. Yakni di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB. Kemudian para pemuda meny¬iapkan peralatan upacara. Komandan Cu dan Co Latif Hendraningrat dan Ariûn Abdurahman berjaga-jaga dan menyiapkan pasukan. Barisan pelopor yang dipimpin S. Suhud menyiapkan tiang bendera. Ibu Fatmawati menyiapkan bendera Merah Putih dengan jahitan tangan. Bendera itu kemudian dikenal sebagai Bendera Pusaka.
Tepat pukul 10.00 WIB, Ir. Soekarno didampingi Drs. Moh. Hatta membacakan naskah Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Upacara dilanjutkan dengan pengibaran Sang Saka Merah Putih oleh Latif Hendra ningrat dan S. Suhud.


Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun ‘45
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno – Hatta


E. TOKOH-TOKOH PENTING DALAM PERISTIWA PROKLAMASI
1. Ir. Soekarno
Sukarno adalah tokoh sangat penting dalam peristiwa Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sebagai pemimpin Indonesia yang menonjol waktu itu, Bung Karno dipilih menjadi ketua PPKI. Bung Karno bersama dengan Bung Hatta dan Ahmad Subarjo merumuskan naskah Prklamasi. Bahkan rumusan awal naskah proklamasi adalah tulisan tangan Bung Karno. Peran Bung Karno yang sangat menonjol adalah bersama Bung Hatta bertindak sebagai Proklamator.

2. Drs. Moh. Hatta
Selain itu, Bung Hatta adalah salah seorang perumus naskah Proklamasi. Bersama Bung Karno, Bung Hatta ber-tindak sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia. Bung Hatta juga sangat berjasa atas perubahan beberapa kata dalam Piagam Jakarta.

3. Ahmad Soebardjo
Ahmad Subarjo adalah Penasihat PPKI. Beliau menjadi penengah golongan muda dan kedua pemimpin nasional, Sukarno-Hatta. Beliau mewakili golongan tua berunding dengan para pemuda ketika Sukarno-Hatta diculik dan diamankan ke Rengasdengklok. Peran penting lain Subarjo adalah turut merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan. Bersama Bung Karno dan Bung Hatta, Beliau merumuskan naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Setelah Indonesia merdeka Beliau diangkat Menteri Luar Negeri Indonesia pertama. Beliau wafat pada bulan Desember 1978 di Jakarta.

4. Ibu Fatmawati
Sebagai istri pemimpin Bangsa Indonesia, Fatmawati turut mendampingi Bung Karno. asa Ibu Fatmawati sangat menonjol dalam peristiwa Proklamasi. Beliau menjahit Bendera Pusaka, Merah Putih. Beliau menjahit Bendera Pusaka ini pada bulan Oktober 1944. Bendera ini dikibarkan setelah Bung Karno membaca Proklamasi.

5. Sutan Syahrir
Sutan Syahrir adalah tokoh politik, pejuang kemerdekaan, dan perdana menteri pertama RI. Syahrir dilahirkan di Bukit Tinggi. Beliau salah satu tokoh yang berani mengambil risiko mencari berita mendengarkan berita radio. Syahrir adalah salah satu tokoh yang paling awal mengetahui berita Jepang menyerah kepada Sekutu.

6. Laksamana Takasi Maeda
Laksamana Maeda adalah seorang perwira penghubung Jepang.

Perjuangan Dalam Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia

Materi Pokok         : Perjuangan Dalam Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia
Mata Pelajaran      : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/ Semester   : V/ II

Perjuangan Dalam Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia

Bulan Februari 1945 pasukan Sekutu berhasil merebut Pulau Iwo Lima di Jepang. Sejak saat itu kekuatan tentara Jepang semakin lemah. Untuk menarik simpati rakyat Indonesia, Jepang mengizinkan Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih di samping bendera Jepang. Lagu kebangsaan Indonesia Raya boleh dikumandangkan setelah lagu Kebangsaan Jepang Kimigayo.

1. BEBERAPA USAHA DALAM RANGKA MEMPERSIAPKAN KEMERDEKAAN
a. Era BPUPKI
Pada 1 Maret 1945, Jenderal Kamakuci Herada mengumumkan dibentuknya badan yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Badan tersebut dinamakan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Zumbi Coosakai. Tujuannya untuk mempersiapkan hal-hal penting mengenai masalah tata pemerintahan negara Indonesia setelah merdeka. Badan tersebut diketuai oleh dr. Radjiman Wedyodiningrat. didampingi dua orang ketua muda, yaitu R.P Suroso dan Ichibangase. Selain menjadi ketua muda, R.P. Suroso juga diangkat menjadi kepala kantor tata usaha BPUPKI dibantu Toyohiko Masuda dan Mr. A.G. Pringgodigdo. BPUPKI ini diresmikan pada 29 Mei 1945.

Pada sidang 29 Mei 1945, Mohammad Yamin mengajukan rancangan dasar negara. Yakni peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan dan kesejahteraan rakyat. Pada 31 Mei 1945, Supomo mengajukan rancangan dasar negara yang terdiri atas persatuan, kekeluargaan, mufakat dan demokrasi, musyawarah dan keadilan sosial. Pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno yang mengajukan lima rancangan dasar negara, dan memberi nama Pancasila. Rancangan itu berisi kebangsaan Indonesia, internasionalisme dan perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang maha esa.

b. Era PPKI
Setelah BPUPKI menyelesaikan tugas-tu¬gasnya, pada 7 Agustus 1945 dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Badan ini bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut masalah ketatanegaraan bagi negara Indonesia baru. Badan ini beranggotakan 21 orang. Adapun yang ditunjuk sebagai ketua adalah Ir. Sukarno, sedangkan wakil ketuanya Drs. Moh Hatta. Sebagai penasihat ditunjuk Mr. Ahmad Subarjo. Kemudian, anggota PPKI ditambah lagi sebanyak enam orang, yaitu Wira¬natakusumah, Ki Hajar Dewantara, Mr. Kasman Singodimejo, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri, dan Ahmad Subarjo.

Pada 22 Juni 1945 dibentuklah panitia kecil. Panitia tersebut terdiri atas sembilan orang anggota, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Muhamad Yamin, Ahmad Subardjo, A. A. Maramis, Abdulkahar Muzakar, K.H. Wachid Hasyim, K.H. Agus Salim dan Abikusno Tjokrosujoso. Ketuanya adalah Ir. Soekarno. Panitia Sembilan ini bertugas merumuskan asas dan tujuan negara merdeka. Panitia Sembilan berhasil merumuskan dokumen yang dikenal sebagai Jakarta Charter atau Piagam Jakarta.

Piagam Djakarta tersebut kemudian dijadikan sebagai Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945. Akan tetapi, terdapat perubahan pada bagian pertama dalam Piagam Djakarta, yaitu “Ketuhanan dengan berkewajiban menjalankan syariat-syariat Islam bagi para pemeluknya”. Kalimat ini kemudian diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Hal ini dilakukan sebagai wujud toleransi terhadap pemeluk agama lain.
Selama menjalankan tugasnya, PPKI melaksanakan tiga kali sidang. Adapun sidang-sidang yang telah dilaksanakan oleh PPKI adalah sebagai berikut.
1. Pada 18 Agustus 1945, menghasilkan keputusan:
a. mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar 1945;
b. memilih Ir. Sukarno sebagai presiden dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil Presiden; dan
c. memperkerjakan KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) sebelum dibentuk MPR. 

2. Pada 19 Agustus 1945, menghasilkan keputusan:
a. penetapan kabinet pertama RI; dan
b. pembagian daerah RI menjadi delapan provinsi. 

3. Pada 22 Agustus 1945, menghasilkan keputusan:
a. pembentukan KNIP yang diketuai oleh Mr. Kasman Singodimedjo;
b. pembentukan Partai Nasional Indonesia; dan
c. pembentukan BKR (Barisan keamanan Rakyat) yang kemudian pada 5 Oktober 1945 diubah namanya menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). 

Sementara itu Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia untuk menyatakan kemerdekaan. Pada tanggal 17 Agustus 1945.

2. PERLUNYA PERUMUSAN DASAR NEGARA SEBELUM KEMERDEKAAN
Mengingat begitu besar peran dasar negara bagi kelangsungan hidup suatu negara, maka dasar negara harus dirumuskan dan ditetapkan. Hal-hal yang menjadi alasan mengapa suatu dasar negara perlu dirumuskan, antara lain:
a. Nilai-nilai kepribadian bangsa perlu dirumuskan secara resmi.
b. Negara memerlukan dasar untuk melangkah maju.

3. MENGHARGAI JASA TOKOH DALAM MEMPERSIAPKAN KEMERDEKAAN
1. Beberapa Tokoh dalam Mempersiapkan Kemerdekaan
a. Ir. Soekarno
Ir. Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Pada masa pergerakan nasional, Soekarno selalu tampil sebagai pemimpin organisasi. Pada 1927 Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Pada masa penjajahan Jepang, Soekarno memimpin organisasi Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Ia bersama Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur mengelola Putera. Pada sidang BPUPKI pertama, 29 Mei sampai 1 Juni 1945, Soekarno mengenalkan lima asas pokok dalam suatu negara. Lima asas ini ditetapkan BPUPKI dengan nama Pancasila. Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Kota Blitar ( Jawa-Timur).

b. Drs. Moh. Hatta
Drs. Moh. Hatta lahir di Batuampar, Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902. Nama aslinya Mohammad Khattan. Ia dikenal sebagai anak yang taat beragama. Gelar sarjana diraihnya di Belanda. Pada masa pergerakan nasional, Drs. Moh. Hatta menjadi ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, Drs. Moh. Hatta memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera).

c. Prof. Dr. R. Soepomo, S.H.
Buah pikirannya banyak dipakai dalam penyusunan UUD 1945. Ia ahli ilmu tata negara dan hukum. Pada sidang BPUPKI ia menjadi ketua panitia kecil yang bertugas merancang Undang-Undang Dasar. Dalam sidang pertama BPUPKI, 31 Mei 1945, Soepomo mengemukakan lima dasar negara. Ia juga diberi tugas memperbaiki redaksi dari rancangan UUD. Terakhir Soepomo duduk sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

d. Prof. Mohammad Yamin, S.H.

Kegiatan berorganisasi dimulainya dengan memasuki Jong Sumatranen Bond. Kemudian menjadi Indonesia Muda. Ia juga salah satu tokoh lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Dalam sidang BPUPKI, Moh. Yamin menyampaikan gagasan mengenai dasar falsafah negara yang kemudian dinamakan Pancasila.

2. Sikap Menghargai Jasa Para Tokoh dalam Mempersiapkan Kemerdekaan
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita menghargai jasa-jasa mereka. Salah satu caranya adalah dengan berziarah ke taman makam pahlawan. Lalu, kita mendoakan mereka. Cara lainnya, yaitu mewarisi semangat mereka dalam rangka mengisi kemerdekaan.

Penjajahan Jepang di Indonesia

Materi Pokok         : Penjajahan Jepang di Indonesia
Mata Pelajaran      : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/ Semester   : V/ II


Penjajahan Jepang di Indonesia

1. PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA
Perang Pasik meletus setelah Jepang mengebom pangkalan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour. Terjadilah Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Serangan ini terjadi pada 8 Desember 1941. Kemudian, negara-negara dalam Blok Sekutu menyatakan perang terhadap Jepang. Perang ini disebut dengan perang Asia Timur Raya. Dengan cepat Jepang menyerbu dan menduduki Daerah yang dikuasai Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat. Yakni Indochina, Myanmar, Filipina, dan Malaysia. Jepang menjajah Indonesia selama 3,5 tahun.

Pada 8 Maret 1942, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati, Subang (Jawa Barat). Penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada Jepang dilakukan oleh Letnan Jenderal N. Terpoorten kepada Letnan Jenderal Hitoshi Imamura. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Belanda di Indonesia.

Setelah menguasai Indonesia, Jepang membagi wilayah Indonesia menjadi tiga wilayah pertahanan. Wilayah I (Jawa dan Madura), wilayah II (Sumatra dan kepulauan di sekitarnya), dan wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara).

2. SEBAB DAN AKIBAT PENGERAHAN TENAGA ROMUSHA OLEH JEPANG TERHADAP PENDUDUK INDONESIA

a. Sebab-sebab Pengerahan Tenaga Romusha
Pada Perang Dunia II, Jepang berada di bawah pemerintahan militer. Semua kebijakan politik, ekonomi, dan sosial, ditujukan untuk kepentingan perang melawan sekutu. Untuk kepentingan itu Jepang memerlukan banyak sumber daya alam dan tenaga manusia. Untuk memenuhi tenaga manusia, Jepang menerapkan sistem kerja paksa di negara jajahannya. Orang-orang dipaksa bekerja untuk kepentingan Jepang yang dinamakan romusha.

b. Akibat Pengerahan Tenaga Romusha
Pengerahan tenaga romusha menyebabkan penduduk Indonesia berkurang akibat meninggal dunia. Penderitaan itu meninggalkan rasa ketakutan bagi mereka yang pernah mengalaminya. Pendudukan Jepang di Indonesia membawa malapetaka bagi rakyat Indonesia. Propaganda dan janji-janji Jepang hanya tipuan belaka. Selama dijajah Jepang, rakyat Indonesia semakin miskin, bodoh, dan menderita. 

3. ORGANISASI BENTUKAN JEPANG
a. Gerakan Tiga A
Gerakan Tiga A merupakan organisasi pertama yang didirikan Jepang. Organisasi ini didirikan pada 29 April 1942 sebagai tempat untuk menghimpun rakyat Indonesia dalam menghadapi kekuatan Barat. Gerakan Tiga A dipimpin oleh Mr. Samsudin. Arti Gerakan Tiga A adalah Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia, dan Jepang Cahaya Asia.

b. (MIAI) dan (Masyumi)
Majelis A’la Indonesia (MIAI) dan Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) adalah organisasi-organisasi Islam yang didirikan oleh Jepang.

c. Pusat Tenaga Rakyat (Putera)
Pusat Tenaga Rakyat (Putera) didirikan pada 16 April 1943. Organisasi ini dipimpin oleh empat serangkai, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur. Tujuan pembentukan organisasi ini adalah untuk mengajak tokoh-tokoh Indonesia membantu Jepang dalam berperang dengan sekutu. Bantuan tersebut dapat berupa tenaga atau pemikiran.

d. Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa)
Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa) didirikan pada 8 Januari 1944. Organisasi ini dipimpin langsung oleh pejabat-pejabat Jepang. Jawa Hokokai terdiri atas berbagai macam hokokai profesi, antara lain Izi Hokokai (Him-punan Kebaktian Dokter), KJawa Hokokaiyoiku Hokokai (Himpunan Kebaktian para Pendidik), Fujinkai (Organisasi Wanita), Keimin Bunka Syidosyo (Pusat Budaya), dan Hokokai Perusahaan.

4. ORGANISASI MILITER BENTUKAN JEPANG

a. Seinendan (Barisan Pemuda)
Seinendan dibentuk pada tanggal 29April 1943. Anggotanya terdiri dari para pemuda yang berusia antara 14-22 tahun. Mereka dididik militer agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Akan tetapi tujuan yang sebenarnya ialah mempersiapkan pemuda untuk dapat membantu Jepang dalam menghadapi tentara Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya.

b. Keibodan (Barisan Pembantu Polisi)
Keibodan dibentuk pada tanggal 29 April 1943. Anggotanya terdiri atas para pemuda yang berusia antara 26-35 tahun, dengan tugas seperti penjagaan lalu lintas, pengamanan desa dan lain-lain. Barisan ini di Sumatra disebut Bogodan, sedangkan di Kalimantan dikenal dengan nama Borneo Konan Hokokudan.

c. Heiho
Heiho (Pembantu Prajurit Jepang), anggota Heiho ditempatkan dalam kesatuan tentara Jepang sehingga banyak dikerahkan ke medan perang.

d. Fujinkai
Fujinkai ( Barisan Wanita).dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggotanya terdiri atas para wanita berusia 15 tahun ke atas. Mereka juga diberikan latihan-latihan dasar militer, dengan tugas untuk membantu Jepang dalam perang.

e. Jibakutai
Jibakutai ( Barisan Berani Mati) dibentuk pada tanggal 8 Desember 1944. Barisan ini rupanya mendapatkan inspirasi dari pilot Kumikaze yang sanggup mengorbankan nyawanya dengan jalan menumbukkan pesawatnya kepada kapal perang musuh.

f. Pembela Tanah Air (PETA)
Peta dibentuk pada 3 Oktober 1943. Calon perwira PETA mendapatkan pelatihan di Bogor. Tujuan didirikannya PETA adalah untuk mempertahankan wilayah masing-masing. Tokoh-Tokoh Pergerakan Nasional

5. PERLAWANAN DAERAH-DAERAH TERHADAP JEPANG
a. Perjuangan Melawan Jepang di Aceh
Perlawanan rakyat Aceh terjadi di Cot Plieng. Perlawanan ini dipimpin oleh Teuku Abdul Jalil. Ia adalah seorang guru mengaji. Peristiwa ini berawal dari sikap tentara Jepang yang bertindak sewenang-wenang. Rakyat diperas dan ditindas. Jepang berusaha membujuk Teuku Abdul Jalil untuk berdamai. Namun, Teuku Abdul Jalil menolaknya. Akhirnya, pada 10 November 1942 Jepang menyerang Cot Plieng.

b. Perjuangan Melawan Jepang di Sukamanah (Singaparna)
Perlawanan ini bermula dari paksaan Jepang melakukan Seikeirei. Yakni penghormatan kepada kaisar Jepang. Penghormatan ini dilakukan dengan cara menghadap ke arah timur laut (Tokyo) dan membungkukkan badan. Cara ini dianggap oleh K.H. Zaenal Mustofa sebagai tindakan musyrik (menyekutukan Tuhan). Tindakan ini melanggar ajaran agama Islam. Akibat penentangan itu, Jepang mengirim pasukan untuk menggempur Sukamanah. Akhirnya meletuslah pertempuran pada 25 Februari 1944 setelah salat Jumat. K.H. Zaenal Mustofa berhasil ditangkap. Ia ditahan di Tasikmalaya, kemudian dibawa ke Jakarta untuk diadili. Ia dihukum mati dan dimakamkan di Ancol. Pada 10 November 1974 makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.

Penjajahan Belanda di Indonesia

Materi Pokok         : Penjajahan Belanda di Indonesia
Mata Pelajaran      : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/ Semester   : V/ II
 
Penjajahan Belanda di Indonesia

1. SEBAB JATUHNYA DAERAH-DAERAH NUSANTARA KE DALAM KEKUASAAN PEMERINTAHAN BELANDA

Belanda datang ke Indonesia pada 1596. Kapal mereka mendarat di Banten. Mereka datang di bawah pimpinan Cornelis de Houtman.
Tujuan Belanda datang ke Indonesia untuk menguasai perdagangan rempah-rempah. Untuk memperkuat kedudukannya, pada 1602 Belanda mendirikan kongsi dagang yang disebut VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) yang berarti Perserikatan Dagang Hindia Timur di Batavia. Untuk mema¬jukan usahanya VOC diberi beberapa hak khusus disebut Octroi dari pemerintah Belanda, yaitu:
1) Hak melakukan monopoli perdagangan di daerah yang ditempati.
2) Membentuk tentara sendiri, mengangkat pegawai, dan membentuk pengadilan.
3) Melakukan perjanjian politik dan ekonomi dengan kerajaan-kerajaan, serta melakukan perang atau damai dengan bangsa/suatu kerajaan lain.
4) Hak mencetak mata uang sendiri. 

Gubernur jenderal VOC yang pertama adalah Pieter Both. Kemudian diganti Jan Pieterszoon Coen. Di bawah kepemimpinan JP Coen, VOC mengalami kemajuan pesat. Ia mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Batavia kemudian dijadikan pusat pemerintahan dan kegiatan VOC. 

Mula-mula kegiatan VOC hanya berdagang. Akan tetapi, lama-kelamaan VOC berusaha men¬guasai perdagangan (monopoli). Di Maluku VOC melakukan Pelayaran Hongi (patroli laut) untuk mengawasi rakyat Maluku agar tidak menjual rempah-rempah mereka kepada pedagang lain. Pusat-pusat perdagangan yang di-kuasai VOC adalah Ambon, Jayakarta, dan Banda. 

Setelah perdagangannya maju, VOC mulai melakukan penjajahan. Mereka memecah belah kekuatan rakyat dengan mengadu domba. Siasat ini disebut “devide et impera”.
Pada Tanggal 31 De-sember 1799, VOC dibubarkan. Dan pada tanggal 1 Januari 1800, kekuasaan VOC di Indonesia digantikan langsung oleh pemerintah Kerajaan Belanda. VOC dibubarkan karena sebab-sebab berikut ini.
1. Pejabat-pejabat VOC melakukan korupsi dan hidup mewah.
2. VOC menanggung biaya perang yang sangat besar.
3. Kalah bersaing dengan pedagang Inggris dan Prancis.
4. Para pegawai VOC melakukan perdagangan gelap.

2. SISTEM KERJA PAKSA DAN PENARIKAN PAJAK YANG MEMBERATKAN RAKYAT
Pada 31 Desember 1799 pemerintah Belanda mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Pada 1806, Napoleon Bonaparte (Kaisar Perancis) berhasil menaklukkan Belanda. Napoleon kemudian mengubah bentuk negara Belanda dari republik menjadi kerajaan. Napoleon mengutus Herman Willem Daendels sebagai gubernur jenderal ke Indo-nesia.

a. Kerja Paksa (Rodi)
Pada saat VOC dibubarkan, Belanda sedang bermusuhan dengan Inggris. Untuk mempertahankan kekuasaan Belanda di Pulau Jawa, Gubernur Jenderal Daendels memerintahkan pembuatan jalan raya. Jalan raya ini dibuat dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur). Kekejaman Gubernur Jenderal Daendels terhadap rakyat Indonesia diketahui oleh Napoleon. Pada 1811, Daendels dipanggil ke Belanda. Ia digantikan oleh Gubernur Jendral Jansens. Akan tetapi, Jansens kurang cakap dalam melaksanakan tugasnya. Pada 1811 Inggris berhasil mengalahkan Belanda di daerah Tuntang dekat Salatiga, Jawa Tengah. Sejak itulah kedudukan Belanda di Indonesia digantikan oleh Inggris. Pemerintah Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur Jenderal. Ia bertugas sejak 1811 sampai dengan 1816. Dalam melaksanakan tugasnya Raffles, ia melakukan kerja paksa penanaman kopi di daerah Priangan untuk keperluan pemerintah Inggris.

b. Tanam Paksa
Belanda datang lagi ke Indonesia dengan menunjuk Van der Capellen sebagai gubernur jenderal. Pada 1830, Van der Capellen digantikan oleh Van den Bosch. Ia diberi tugas untuk mengisi keuangan Belanda yang kosong. Untuk memenuhi tugasnya Van den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa atau Cultuur Stelsel. Dalam melaksanakan tugasnya Belanda membuat peraturan-peraturan pokok tanam paksa sebagai berikut.
1) Rakyat harus menanami 1/5 dari tanah yang dimilikinya dengan tanaman ekspor seperti kopi, tebu, teh, dan tembakau.
2) Hasil tanaman harus dijual kepada pemer¬intah dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.
3) Tanah yang ditanami tanaman ekspor tersebut bebas dari pajak tanah.
4) Kaum petani tidak boleh disuruh bekerja lebih keras daripada bekerja untuk tanaman padinya.
5) Rakyat yang tidak memiliki tanah dikenakan kerja rodi selama 65 hari setiap tahun di tanah milik pemerintah.
6) Kerusakan tanaman menjadi tanggungan pe¬merintah, apabila kerusakan itu bukan karena kesalahan rakyat. 

Pihak Belanda bertindak sewenang-wenang dalam mengeruk hasil bumi. Bahkan dalam pelaksanaannya lebih berat dari peraturan yang telah dibuat. Rakyat harus menanami 1/4, 1/3, atau setengah dari tanah yang dimilik untuk dita-nami tanaman tertentu. Hasilnya harus disetorkan kepada Belanda.

3. PERJUANGAN TOKOH DAERAH UNTUK MENGUSIR PENJAJAH BELANDA
a. Pattimura
Melihat penderitaan rakyat Maluku, Pattimura atau Thomas Matulessi, menjadi tergugah hatinya. Ia adalah orang Maluku asli yang menjadi tentara Belanda. Pada 1817 Pattimura bersama dengan rakyat menyerang Benteng Duurstede. Semua teman Belanda dan residen Van den Berg beserta keluarganya terbunuh. alam pertempuran itu rakyat Maluku berhasil menewaskan Mayor Beeces. Ia adalah pimpinan pasukan Belanda. Pada pertengahan November 1817 Pattimura dan teman-teman tertangkap. Pada 16 Desember 1817, Pattimura menjalani hukuman gantung di Ambon.

b. Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro adalah putra Hamengku Buwono III. Hal yang menjadi pemicu perang Diponegoro adalah patok dalam membuat jalan menuju Magelang. Patok itu melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro yang dilakukan tanpa perundingan dahulu. Pada 20 Juli 1825, Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya melawan Belanda. Mereka berjuang dengan taktik perang gerilya. Markas Diponegoro berpindah-pindah, yaitu di Selarong, Pleret, Dekso, dan Pengasih. 

Pada 1827 Belanda menugaskan Jenderal Marcus de Kock untuk menumpas pasukan Diponegoro. Perlawanan Diponegoro mendapat banyak dukungan, di antaranya Kiai Mojo, Alibasyah Sentot Prawirodirjo dan Nyi Ageng Serang. Pertahanan Diponegoro di Gua Selarong sangat kuat. Belanda kewalahan menghadapi pa¬sukan Diponegoro. Belanda di bawah pimpinan Jenderal De Kock menerapkan taktik baru yakni taktik Benteng Stelsel. Belanda mendirikan ben¬teng di daerah-daerah yang didudukinya. 

Kemudian, Pangeran Diponegoro diundang untuk berunding di Magelang. Dalam perundingan itu, ia tiba-tiba ditangkap dan diasingkan ke Manado. Kemudian dipindahkan ke Makassar sampai wafat pada 8 Januari 1855.

c. Imam Bonjol
Perlawanan terhadap Belanda juga berlangsung di Sumatera Barat. Perlawanan ini dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Kehadiran Belanda di Sumatera Barat untuk menguasai daerah penghasil kopi. Pada 1821, Belanda dengan bantuan Kaum Adat memerangi Kaum Paderi. Tuanku Imam Bonjol memimpin pasukan Paderi untuk menghadapi Belanda. Dalam peperangan ini Belanda dapat dikalahkan. Belada terpaksa mengadakan perjanjian Masang pada 1824. 

Pada 1837, pasukan Belanda di bawah pimpinan Letkol Michels menyerbu Bonjol. Pada Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol ditangkap. Ia kemudian dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Ia dipindahkan lagi ke Ambon dan akhirnya ke Lotan dekat Manado. Ia meninggal pada 8 November 1864 dan dimakamkan di sana.

d. Pangeran Antasari
Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan terdapat kerajaan yang besar. Setelah Sultan Adam wafat, Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah. Padahal ia tidak disenangi rakyat. Tindakan Belanda di Kesultanan Banjar sema-kin semena-mena. Pangeran Tamjidillah pun mendapat perlawanan dari Pangeran Hidayat dengan dukungan rakyat. Namun, ia mengalami kegagalan dan ditangkap lalu dibuang ke Cianjur. 

Kemudian muncullah Pangeran Antasari yang menolak campur tangan Belanda. Pangeran Antasari memimpin rakyat Banjar melawan Belanda sejak 1859 – 1862. Ia diangkat oleh rakyat Banjar menjadi sultan. Pasukan Antasari berhasil meledakkan kapal Belanda beserta pa¬sukannya. Perlawanan Antasari terhenti karena sakit. Akhirnya ia meninggal pada 1862.

e. Sisingamangaraja XII
Perlawanan rakyat Batak terhadap Belanda di daerah Tapanuli dipimpin oleh rajanya, Sisingamangaraja XII. Sisingamangaraja XII menjadi raja sejak umur 18 tahun. Waktu kecilnya bernama Patuan Bosar Ompu Pulo Batu. Ia lahir di Bakkara, Tapanuli 1849. Ia gugur tertembak pada 17 Juni 1907. Ia dimakamkan di Pulau Samosir, Sumatra Utara.

f. Raja Buleleng dan Gusti Ketut Jelantik
Di Bali berlaku hukum adat Tawan Karang. Hukum adat ini menyatakan bahwa setiap kapal asing yang terdampar di perairan Bali akan menjadi milik raja Bali. Pada 1846, Belanda mendarat di sebelah utara Bali. Daerah ini merupakan daerah kerajaan Buleleng. Belanda memerintahkan Raja Buleleng untuk segera mengakui kekuasaan Belanda. Hukum Tawan Karang dihapuskan. 

Karena ultimatum ditolak raja, terjadilah pertempuran antara Belanda dan rakyat Bali. Raja Buleleng dibantu oleh Patih Gusti Ketut Jelantik. Akan tetapi, pasukan yang dipimpin oleh Gusti Ketut Jelantik akhirnya terdesak dan mundur ke luar Benteng Jagaraga.

g. Teuku Umar dan Cut Nya’ Dien.
Teuku Umar adalah pahlawan yang pandai, gagah dan berani. la bersama istrinya, Cut Nya’ Dien memimpin perlawanan di Aceh Barat. Untuk menghadapi perlawanan tersebut Belanda menggunakan kekerasan, namun gagal. 

Pada tahun 1893, ia menyerah. Teuku Umar diberi pasukan dengan persenjataan lengkap untuk melumpuhkan pejuang-pejuang Aceh. la diberi gelar Panglima Besar Johan Pahlawan. Ternyata, penyerahan Teuku Umar hanya taktik belaka. Pada tahun 1896, Teuku Umar kembali bergabung dengan para pejuang. la berhasil membawa senjata lengkap. 

Untuk mengatasi pemberontakan, Belan¬da mengirimkan Dr. Snouck Hurgronje untuk menyelediki masyarakat Aceh dengan melakukan penyamaran. Dalam penyamaran Dr. Snouck Hurgronje menyamar sebagai ulama dengan nama Abdul Gafar. Dari hasil penyelidikannya, diketahui bahwa kaum bangsawan (Teuku) harus dipisahkan dengan golongan ulama (teungku). Setelah itu belanda mengganti tak¬tiknya dengan taktik adu domba yaitu memisahkan kaum ulama dengan kaum bangsawan. 

Pahlawan-pahlawan lain yang ikut dalam Perang Aceh di antaranya, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Meutia, dan Panglima Polim.

Senin, 14 Desember 2015

Kerajaan Hindu dan Peninggalan Sejarahnya

Materi Pokok         : Kerajaan Hindu dan Peninggalan Sejarahnya

Mata Pelajaran      : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Kelas/ Semester   : V/ I
 
Kerajaan Hindu dan Peninggalan Sejarahnya
Sumber: http://www.merbabu.com

1. Kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia
Agama Hindu yang dibawa dari India berpengaruh di Indonesia. Salah satu bentuknya adalah munculnya kerajaan-kerajaan Hindu, seperti Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Kediri, Singasari, dan Majapahit.

a. Kerajaan Kutai
Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai didirikan sekitar tahun 400 masehi. Letaknya di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Raja pertamanya bernama Kudungga. Raja yang terkenal adalah Mulawarman. Mulawarman menyembah Dewa Syiwa. Dalam suatu upacara Raja Mulawarman menghadiahkan 20.000 ekor sapi kepada Brahmana. Untuk memperingati upacara itu maka didirikan sebuah Yupa. Dalam Yupa itu ditulis berita mengenai Kerajaan Kutai.

b. Kerajaan Tarumanegara
Tarumanegara adalah kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa. Kerajaan ini berdiri kira-kira pada abad ke- 5 Masehi. Lokasi kerajaan itu sekitar Bogor, Jawa Barat. Rajanya yang terkenal adalah Purnawarman. Purnawarman memeluk agama Hindu yang menyembah Dewa Wisnu. Pada zaman Purnawarman, kerajaan Tarumanegara telah mampu membuat saluran air yang diambil dari sungai Citarum. Saluran air itu berfungsi untuk mengairi lahan pertanian dan menahan banjir.

c. Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri terletak di sekitar Kali Berantas, Jawa Timur. Kerajaan Kediri berjaya pada pemerintahan Raja Kameswara yang bergelar Sri Maharaja Sirikan Kameswara. Kameswara meninggal pada tahun 1130. Penggantinya adalah Jayabaya. Jayabaya adalah raja terbesar Kediri. Ia begitu terkenal karena ramalannya yang disebut Jangka Jayabaya. Raja Kediri yang terakhir adalah Kertajaya yang meninggal tahun 1222. Pada tahun itu Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok di Desa Ganter, Malang. Peninggalan-peninggalan Kerajaan Kediri antara lain Prasasti Panumbangan, Prasasti Palah, Kitab Smaradhahana karangan Empu Dharmaja, Kitab Hariwangsa karangan Empu Panuluh, Kitab Krinayana karangan Empu Triguna, dan Candi Panataran.

d. Kerajaan Singasari
Kerajaan Singasari terletak di Singasari, Jawa Timur. Luasnya meliputi wilayah Malang sekarang. Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok. Beliau memerintah tahun 1222-1227 M. Para penggantinya adalah Anusapati (1227-1248), Panji Tohjaya (1248), Ranggawuni (1248-1268), Kertanegara (1268 - 1292).
Beberapa peninggalan masa kebesaran Singasari antara lain:
1. Candi Jago/Jajaghu, sebagai ma-kam Wisnuwardhana,
2. Candi Singasari dan Candi Jawi, sebagai makam Kertanegara,
3. Candi Kidal, sebagai makam Anusapati,
4. Patung Prajnaparamita, sebagai perwujudan Ken Dedes.
2. Peninggalan sejarah Hindu di Indonesia

Kebudayaan Hindu di masa lampau mewariskan bermacam-macam peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah yang bercorak kebudayaan Hindu antara lain candi, prasasti, patung, karya sastra (kitab), dan tradisi. Mari kita bahas peninggalan-peninggalan ini satu per satu.

a. Candi
Candi adalah bangunan yang biasanya terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap. Pada candi Hindu biasanya terdapat arca perwujudan tiga dewa utama dalam ajaran Hindu. Tiga dewa itu adalah Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Brahma adalah dewa pencipta, Wisnu dewa pemelihara, dan Syiwa dewa pelebur. Pada dinding candi terdapat relief, yaitu gambar timbul yang biasanya dibuat dengan cara memahat. Relief mengisahkan sebuah cerita. Candi peninggalan Hindu yang terkenal adalah Candi Prambanan atau Candi Loro Jonggrang. Candi Prambanan dibangun pada abad ke-9 di perbatasan Yogyakarta dan Surakarta. Di dalam candi ini terdapat patung Trimurti dan relief yang mengisahkan cerita Ramayana. Tokoh dalam cerita Ramayana adalah Rama, Shinta, dan Burung Jatayu.

b. Prasasti
Prasasti adalah benda peninggalan sejarah yang berisi tulisan dari masa lampau. Tulisan itu dicatat di atas batu, logam, tanah liat, dan tanduk binatang. Prasasti peninggalan Hindu ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti tertua adalah Prasasti Yupa, dibuat sekitar tahun 350-400 M. Prasasti Yupa berasal dari Kerajaan Kutai. Yupa adalah tiang batu yang digunakan pada saat upacara korban. Hewan kurban ditambatkan pada tiang ini. Prasasti Yupa terdiri dari tujuh batu bertulis. Isi Prasasti Yupa adalah syair yang mengisahkan Raja Mulawarman. Berikut ini daftar prasasti-prasasti peninggalan kebudayaan Hindu.

c. Patung
Wujud patung Hindu antara lain hewan dan manusia. Patung berupa hewan dibuat karena hewan tersebut dianggap memiliki kesaktian. Patung berupa manusia dibuat untuk mengabadikan tokoh tertentu dan untuk menggambarkan dewa dewi. Contoh patung peninggalan kerajaan Hindu yang terkenal adalah Patung Airlangga sedang menunggang garuda. Dalam patung itu, Airlangga digambarkan sebagai penjelmaan Dewa Wisnu.

d. Karya sastra (kitab)
Karya sastra peninggalan kerajaan Hindu berbentuk kakawin atau kitab. Kitab-kitab peninggalan itu berisi catatan sejarah. Umumnya karya sastra peninggalan sejarah Hindu ditulis dengan huruf Pallawa dalam bahasa Sansekerta pada daun lontar. Karya sastra yang terkenal antara lain Kitab Baratayuda dan Kitab Arjunawiwaha. Kitab Baratayuda dikarang Empu Sedah dan Empu Panuluh. Kitab Baratayuda berisi cerita keberhasilan Raja Jayabaya dalam mempersatukan Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala. Kitab Arjunawiwaha berisi pengalaman hidup dan keberhasilan Raja Airlangga.

e. Tradisi
Tradisi adalah kebiasaan nenek moyang yang masih dijalankan oleh masyarakat saat ini. Tradisi agama Hindu banyak ditemukan di daerah Bali karena penduduk Bali sebagian besar beragama Hindu. Tradisi agama Hindu yang berkembang di Bali, antara lain:
  1. Upacara nelubulanin ketika bayi berumur 3 bulan.
  2. Upacara potong gigi (mapandes).
  3. Upacara pembakaran mayat yang disebut Ngaben. Dalam tradisi Ngaben, jenazah dibakar beserta sejumlah benda berharga yang dimiliki orang yang dibakar.
  4. Ziarah, yaitu mengunjungi makam orang suci dan tempat suci leluhur seperti candi.

Selasa, 25 November 2014

Tarian Tradisional Indonesia

Gending Sriwijaya
Tari Gending Sriwijaya merupakan tarian adat masyarakat Sumatera Selatan. Tarian ini biasa ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan yang berkunjung ke Sumatera Selatan. Gerakan dalam tarian ini menunjukkan sikap masyarakat Sumatera Selatan yang ramah, tulus, dan terbuka terhadap tamu. Tarian ini dimainkan oleh 9 orang penari wanita yang berbusana adat aesan gede, dan dikawal oleh 2 orang penari lainnya yang membawa payung dan tombak. Tarian ini juga diiringi penyanyi dan music pengiring tarian. Musik pengiring tarian adalah alat musik tradisional Sumatera Selatan, yaitu gamelan Sumatera Selatan dan gong. Penari paling depan membawa tepak sekapur sirih untuk dipersembahkan kepada tamu agung, diiringi oleh 2 penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Tari Gending Sriwijaya dan lagu pengiringnya diciptakan tahun 1944 dengan tujuan agar para generasi muda selalu mengingat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Dengan semangat kebersamaan, sebuah bangsa akan menjadi semakin kuat.
Tari Hudoq
Tari Hudoq berasal dari Kalimantan Timur. Tarian ini mencerminkan kebersamaan karena dilakukan pada saat akan memulai masa tanam padi, membersihkan desa, ataupun saat panen. Tarian ini sarat dengan unsur magis, dipimpin oleh seorang pawang yang menyediakan sesaji kepada dewi padi dan Sang Pencipta alam semesta. Tari Hudoq mencerminkan kebersamaan. Tari Hudoq yang dilakukan pada saat akan menanam padi bertujuan untuk meminta kesuburan tanah yang akan mereka garap kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tari Hudoq yang dilaksanakan pada saat membersihkan desa bertujuan untuk memohon kesejahteraan bagi masyarakat desa. Tari Hudoq yang dilakukan saat panen bertujuan untuk menyampaikan rasa syukur atas panen yang telah mereka dapatkan. Salah satu keunikan tarian ini adalah topeng kayu yang dikenakan penarinya. Kostum yang digunakan terbuat dari daun pisang. Gerakan tarian ini, antara lain maju sambil menghentak-hentakkan kaki, dilanjutkan dengan gerakan menghentakkan kaki setinggi tumit, serta mengepakkan sayap seakan burung akan terbang. Tarian ini biasanya ditarikan oleh 13 orang penari.
Tari Serimpi
Tari Serimpi merupakan tarian yang berasal dari daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tari Serimpi termasuk ke dalam tarian klasik. Ada berbagai jenis Tari Serimpi yang dikenal masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pada zaman dahulu, tari Serimpi hanya ditampilkan pada waktu dan tempat yang terbatas, arena tariantarian klasik semacam itu hanya dimainkan di depan raja serta kerabat kerajaan. Tari Serimpi memiliki keunikan, antara lain sebelum para penari menarikan tarian ini, terlebih dahulu harus menjalani upacara ritual tertentu. Selain itu, ada masamasa tertentu kapan tarian itu diperagakan, misalnya ketika raja sedang makan. Pada awalnya tari Serimpi ditampilkan dalam waktu yang lama, yaitu sekitar satu jam, dan dalam gerakannya terdapat beberapa pengulangan. Gerakan tari ini sangat gemulai dan harmonis, menggambarkan gerakan air yang mengalir. Gerakan tari Serimpi juga mencerminkan sikap masyarakat Jawa, khususnya masyarakat sekitar keraton yang memiliki budaya yang halus. Sejalan dengan perkembangan waktu, tari Serimpi mengalami perubahan, terutama dalam hal durasi waktu saat tarian ini disajikan. Tari Serimpi diiringi oleh gending yang mengikuti gerakan para penari. Kini, tarian ini sering ditampilkan dalam jamuan tamu kehormatan yang berkunjung ke keraton.
Tari Saman
Tari Saman merupakan tarian yang berasal dari suku Aceh Gayo. Tarian ini mencerminkan kebersamaan dan kekompakan dalam menarikannya. Tarian ini tidak menggunakan iringan musik dalam penyajiannya, hanya menggunakan suara dari para penarinya, ditambah dengan suara tepukan tangan, suara tepukan dada, serta tepukan pada pangkal paha penarinya. Tari Saman biasanya dimainkan oleh puluhan atau belasan penari laki-laki. Namun, ada juga yang dimainkan oleh 10 orang penari laki-laki, 8 di antaranya melakukan gerakan tarian, dan 2 orang lagi memberi aba-aba sambil bernyanyi. Untuk mengatur gerakannya, dipilih seorang pemimpin yang disebut syekh, yang juga bertugas menyanyikan lagu-lagu Saman. Tari Saman biasa ditampilkan pada berbagai acara, seperti peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, pembukaan sebuah festival, dan kunjungan tamu kehormatan.
Sumber tulisan dan gambar:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2014. Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Kelas IV Tema 1 Indahnya Kebersamaan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia